InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka diperkirakan akan bergerak lebih tinggi minggu depan, didorong oleh penguatan harga minyak kedelai berjangka dan tingginya permintaan global. Pedagang minyak kelapa sawit David Ng memperkirakan harga CPO berjangka akan berada di rentang RM4.900 hingga RM5.180 per ton seiring dengan sentimen pasar yang optimis terhadap permintaan yang kuat.
Namun, Jim Teh, pedagang senior dari Interband Group of Companies, memperkirakan bahwa pergerakan harga CPO berjangka akan lebih fluktuatif dalam rentang RM4.500 hingga RM4.700 per ton. Menurutnya, bulan November sering kali menjadi periode puncak harga CPO karena mendekati angka RM5.000 per ton. Dengan harga yang tinggi, negara-negara besar seperti China, India, Pakistan, serta negara-negara Timur Tengah dan Uni Eropa cenderung membeli minyak sawit hanya saat kebutuhan mendesak.
“Stok di Malaysia dan Indonesia cukup memadai, sehingga pasokan minyak sawit mentah tidak dalam kondisi kekurangan,” kata Jim kepada dikutip InfoSAWIT dari Bernama, Selasa (12/11/2024).
BACA JUGA: Permintaan Minyak Nabati Dunia Meningkat, Harga Minyak Sawit Diprediksi Melonjak di 2025
Secara mingguan, kontrak spot bulan November 2024 mengalami kenaikan sebesar RM184, ditutup pada harga RM5.160 per ton. Sementara itu, kontrak Desember 2024 naik RM230 menjadi RM5.144 per ton, dan kontrak Januari 2025 naik RM233 menjadi RM4.868 per ton.
Kenaikan juga terjadi pada kontrak-kontrak jangka panjang, dengan kontrak Februari 2025 meningkat RM231 menjadi RM5.039 per ton, Maret 2025 naik RM212 menjadi RM4.938 per ton, dan April 2025 naik RM184 menjadi RM4.637 per ton.
Volume perdagangan mingguan menunjukkan peningkatan signifikan menjadi 461.460 lot dari 316.573 lot pada minggu sebelumnya. Namun, open interest atau minat terbuka sedikit menurun menjadi 239.911 kontrak dibandingkan 246.507 kontrak pekan sebelumnya.
BACA JUGA: Harga Minyak Sawit Global Melonjak, Pakistan Tingkatkan Impor RBDPO dan Minyak Kedelai
Harga CPO fisik untuk wilayah Selatan pada November juga naik sebesar RM180 menjadi RM5.160 per ton pada Jumat, dibandingkan RM4.980 per ton seminggu sebelumnya. (T2)
