InfoSAWIT, JAKARTA – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) resmi membuka Program Grant Riset Sawit (GRS) 2025, sebuah inisiatif pendanaan penelitian dan pengembangan di sektor kelapa sawit. Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas, efisiensi, keberlanjutan (sustainability), serta menciptakan inovasi produk dan pasar baru dengan nilai tambah bagi industri sawit, pemerintah, serta petani dan masyarakat.
Program ini terbuka untuk Lembaga Penelitian dan Pengembangan di Indonesia yang memiliki fokus pada penelitian kelapa sawit. BPDPKS mengundang para peneliti untuk mengajukan proposal paling lambat 21 Maret 2025 melalui laman resmi: https://program-riset.bpdp.or.id/.
Dalam program ini, BPDPKS menetapkan tujuh bidang prioritas untuk topik penelitian, yaitu, pertama, Bioenergi, kedua, Biomaterial & Oleokimia, ketiga, Pangan, Pakan, dan Kesehatan.
BACA JUGA: Pemerintah Siapkan Revisi Aturan Devisa Hasil Ekspor SDA untuk Tingkatkan Retensi
Lantas keempat, Lahan, Tanah, & Budidaya, kelima, Pasca Panen & Pengolahan, keenam, Pengolahan Limbah & Lingkungan, dan terakkhir ketujuh, Sosial Ekonomi, Manajemen, Bisnis, Pasar, dan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK)
BPDPKS juga menyediakan Buku Panduan Teknis yang mencakup persyaratan, kriteria, format, mekanisme pengajuan proposal, serta sistem monitoring dan evaluasi program. Dokumen ini dapat diakses melalui situs resmi BPDPKS: www.bpdp.or.id dan laman program riset.
Sebagai bagian dari sosialisasi, BPDPKS akan menggelar webinar mengenai tata cara pendaftaran dan teknis program. Informasi jadwal pelaksanaan webinar akan diumumkan melalui situs resmi BPDPKS.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Senin (23/12), Harga CPO di Bursa Malaysia Turut Naik
“Program ini merupakan langkah strategis untuk mendorong kemajuan industri kelapa sawit nasional melalui penelitian yang inovatif dan aplikatif,” demikian pernyataan resmi BPDPKS.
Dengan pembukaan GRS 2025, BPDPKS berharap semakin banyak riset yang berkontribusi pada pengembangan kelapa sawit berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di sektor perkebunan global. (T2)
