InfoSAWIT, BOGOR – Kepala Divisi Keberlanjutan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Rapolo Hutabarat menekankan pentingnya membangun arsitektur komprehensif dari hulu ke hilir dalam industri minyak sawit nasional. Hal ini disampaikan dalam Workshop Jurnalis Industri Hilir Sawit, dihadiri InfoSAWIT, di Bogor, Sabtu (22/2/2025).
Menurut Hutabarat, meski produk minyak sawit Indonesia telah sukses di pasar global, potensi ekonomi dari turunan hilirnya belum tergarap optimal. “Selama tiga tahun terakhir, nilai ekspor produk sawit rata-rata hanya US$30 miliar per tahun. Padahal, dalam minyak sawit yang dihasilkan, terdapat 10 jenis fitonutrien yang pangsa pasarnya mencapai 10% secara global. Sayangnya, tidak satu pun perusahaan Indonesia yang menguasai sektor ini,” ujarnya.
Dia menjelaskan, nilai pasar fitonutrien sawit diperkirakan mencapai 30% dari total ekspor atau sekitar US$10 miliar per tahun. Namun, peluang ini belum dimanfaatkan karena kurangnya inisiatif industri dan regulasi pendukung. “Kita perlu menyusun strategi jangka panjang 20 tahun ke depan, terutama menyambut 100 tahun kemerdekaan Indonesia di 2045. Saatnya kita bertanya: seperti apa kontribusi sawit untuk masa depan?” tambahnya.
BACA JUGA: GAPKI Sebut Ketidakpastian Hukum dan Tumpang Tindih Kebijakan Jadi Tantangan Industri Sawit
Biodiesel Sukses, Bioethanol Tertinggal
Rapolo Hutabarat mengapresiasi kesuksesan program biodiesel yang mencapai mandatori B35, berkat konsistensi dukungan pemerintah. Namun, dia menyayangkan lambatnya perkembangan bioetanol. “Regulasi bioetanol sebenarnya telah diatur dalam Permen ESDM No. 12 Tahun 2025, dengan target pencampuran 2% pada 2015, 5% (2016), dan 10% (2020). Namun, implementasinya masih terkendala mekanisme pencampuran dan insentif,” paparnya.
Meski pemerintah berencana menerapkan 1% bioavtur (bahan bakar pesawat ramah lingkungan) pada 2027, Hutabarat menekankan perlunya regulasi jelas dan konsisten. “Singapura dan Uni Eropa sudah mulai uji coba bioavtur. Momentum ini harus kita ambil agar Indonesia tidak hanya menjadi pemain, tapi pemimpin di pasar global,” tegasnya.
Rapolo juga mendorong optimalisasi lahan berkelanjutan untuk memproduksi bahan baku bioenergi. “Petani sawit harus dilibatkan sebagai bagian dari rantai pasok industri hilir. Dengan begitu, nilai tambah tidak hanya dinikmati oleh korporasi, tapi juga masyarakat,” ujarnya.
BACA JUGA: ESDM Percepat Transisi Energi Hijau dan Biodiesel Sawit Menuju Ketahanan Nasional 2025
Sebagai penutup, Ia juga menyerukan kolaborasi multipihak untuk memperkuat daya saing industri sawit. “Jika kita serius menggarap hilirisasi, mulai dari fitonutrien hingga bioavtur, Indonesia bisa menguasai pasar global sekaligus menjaga komitmen keberlanjutan,” pungkasnya.
Dengan potensi ekonomi hijau yang terus menguat, langkah strategis ini diharapkan bisa menempatkan Indonesia sebagai pelopor dalam industri berbasis sawit berkelanjutan di kancah internasional. (T2)
