InfoSAWIT, JAKARTA – Peluang Indonesia untuk memperkuat ekspor minyak kelapa sawit ke Uni Eropa (UE) terbuka semakin lebar. Hal ini seiring dengan hampir rampungnya perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang kini telah mencapai lebih dari 90 persen kesepakatan substansi.
Pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan European Union Commissioner for Trade and Economic Security Maroš Šefčovič pada 6 Juni 2025 menjadi titik penting dalam fase akhir perundingan IEU-CEPA. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menyepakati bahwa hanya sedikit isu teknis yang tersisa dan tengah difinalisasi di tingkat Chief Negotiators dan Working Groups.
“Proses perundingan substansi IEU-CEPA ini sudah masuk tahap terakhir, dan hampir seluruh substansi sudah disepakati. Kita harapkan pada kunjungan Komisioner Maros ke Indonesia September mendatang sudah ada nota kesepahaman yang bisa ditandatangani,” ujar Airlangga dalam forum Diseminasi Perundingan IEU-CEPA di Jakarta, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Senin (16/6/2025).
BACA JUGA: Melukis Ulang Lanskap Sawit Rakyat dengan Kuas Restorasi
Salah satu isu krusial yang menjadi perhatian dalam perjanjian ini adalah potensi peningkatan ekspor minyak sawit dan turunannya ke pasar Uni Eropa. Selama ini, komoditas tersebut menjadi tulang punggung perdagangan Indonesia ke UE, namun masih menghadapi tantangan tarif dan regulasi lingkungan yang ketat.
Dengan rampungnya IEU-CEPA, tarif ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia—termasuk minyak sawit—yang saat ini bisa mencapai 8-12 persen, berpeluang turun menjadi 0 persen. Ini diyakini akan meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia di pasar Eropa.
“Kalau ekspor kita naik 50 persen itu setara dengan Vietnam ataupun Malaysia tahun ini. Kalau ini yang kita dorong, maka tarif-tarif ekspor bisa turun ke 0 persen,” ungkap Airlangga.
Pada 2024, nilai perdagangan Indonesia dan Uni Eropa tercatat mencapai US$30,1 miliar, dengan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$4,5 miliar—naik signifikan dari US$2,5 miliar pada 2023. Dari angka tersebut, minyak kelapa sawit dan turunannya menjadi salah satu kontributor utama ekspor, bersama produk seperti bijih tembaga, fatty acids, alas kaki, dan produk karet.
BACA JUGA: Wagub Sumbar Beri Sinyal Kuat Terbitnya Regulasi Baru Harga TBS Sawit
Meski ekspor Indonesia ke UE sempat turun usai mencetak rekor US$21,53 miliar pada 2022, tahun 2024 menunjukkan pemulihan dengan nilai ekspor kembali meningkat menjadi US$D17,35 miliar. Uni Eropa sendiri menyumbang sekitar 6,5% dari total ekspor Indonesia.
UE juga menunjukkan komitmennya untuk membuka akses pasar lebih luas bagi komoditas unggulan Indonesia, termasuk minyak sawit, sepatu, tekstil, dan ikan kaleng. Dalam sektor energi terbarukan dan pengembangan kendaraan listrik pun, UE menyatakan kesiapan untuk bekerja sama lebih erat dengan Indonesia.
