Menurut Kepala Humas INSTIPER sekaligus dosen Agroteknologi, Betti Yuniasih, pendekatan ini penting agar mahasiswa memahami mata rantai industri sawit secara utuh, dari proses hulu hingga hilir.
“Mahasiswa Agroteknologi tak hanya belajar budidaya, tapi juga dilibatkan dalam pengolahan CPO agar memahami pentingnya panen TBS yang matang. Sementara itu, mahasiswa Agribisnis belajar tentang bisnis proses industri sawit, dan mahasiswa Teknik Pertanian memahami pentingnya spesifikasi alat dalam setiap tahapan pengolahan,” ujar Betti.
Tak hanya berhenti pada pengolahan CPO, INSTIPER juga membekali mahasiswanya dengan kemampuan mengolah berbagai produk turunan kelapa sawit. Beberapa di antaranya termasuk Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO), biodiesel, sabun, lilin, margarin, hingga produk makanan seperti cookies.
BACA JUGA: INSTIPER Yogyakarta Wisuda 331 Lulusan, Tekankan Kesiapan Hadapi Dunia Kerja
Hal ini menjadi bukti bahwa INSTIPER menyiapkan lulusannya untuk tidak hanya menjadi pelaku di sektor hulu, tetapi juga siap bersaing di lini hilir yang lebih bernilai tambah.
Melalui pendekatan praktik langsung, pemanfaatan teknologi, dan pembelajaran lintas keilmuan, INSTIPER menegaskan posisinya sebagai pionir pendidikan tinggi yang mendukung industri sawit nasional. Proses pengolahan di pilot plant bukan hanya sarana edukasi, tetapi juga menjadi miniatur industri sawit yang efisien dan berkelanjutan.
Dengan semangat inovasi dan keberlanjutan, INSTIPER tidak hanya mencetak lulusan siap kerja, tetapi juga calon pemimpin industri sawit masa depan yang memahami pentingnya kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan dari ladang hingga pabrik. (T2)
