Namun, ruang kenaikan harga CPO dinilai terbatas akibat peningkatan pasokan minyak nabati lunak secara global. Produksi minyak bunga matahari dan minyak lobak diperkirakan naik hingga 8,1 juta ton pada musim panen berikutnya. Sementara itu, proyeksi produksi kedelai yang kuat di tahun 2025 diprediksi menyisakan stok melimpah yang akan terbawa ke tahun 2026.
MPOC juga menyoroti dinamika di Amerika Serikat yang mendorong harga minyak kedelai, khususnya akibat kebijakan energi bersih. Lonjakan harga dipicu oleh aturan biofuel di bawah Renewable Fuel Standard (RFS), yang mewajibkan para produsen bahan bakar untuk mencampurkan biofuel atau membeli kredit kepatuhan yang dikenal sebagai Renewable Identification Numbers (RINs). Administrasi Trump bahkan mengusulkan mandat baru untuk biodiesel berbasis biomassa.
Meski pasar global masih dinamis, MPOC menilai risiko penurunan harga pada Juli relatif kecil. Pasalnya, stok CPO diperkirakan tetap bertahan di kisaran dua juta ton, didukung oleh ekspor yang tetap kuat dan mulai menurunnya produksi setelah puncak panen pada April dan Mei.
BACA JUGA: Siapkan SDM Unggul, Mahasiswa Unida Belajar Teknologi Sawit di Pabrik Modern
Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang ada, harga CPO diproyeksi tetap stabil dalam beberapa pekan ke depan, meskipun ketidakpastian pasar global tetap perlu diwaspadai oleh para pelaku industri. (T2)
