Hasilnya langsung terasa sejak hari pertama. Setiap sesi pelatihan hidup dengan interaksi. Para peserta tidak ragu bertanya, mencatat, dan berbagi pengalaman mereka. Pelatihan menjadi ruang kolaborasi dua arah antara narasumber dan pekebun, di mana teori bertemu realita, dan pengalaman berpadu dengan inovasi.
Materi yang disampaikan juga mencakup spektrum penting dalam budidaya kelapa sawit, seperti, pemahaman terhadap regulasi dan kebijakan terbaru di sektor perkebunan, teknik memilih benih unggul dan adaptif, strategi persiapan lahan dan perawatan tanaman muda, dan pengendalian hama, penyakit, dan gulma dengan pendekatan ramah lingkungan.
Sebagai puncak pelatihan, para peserta melakukan kunjungan lapangan ke PT PP London Sumatra Indonesia, Bah Lias Estate, di Perdagangan I, Kabupaten Simalungun. Di lokasi ini, peserta diajak melihat langsung penerapan Good Agricultural Practices (GAP) oleh perusahaan, mulai dari manajemen tanaman, pemupukan, hingga pengendalian penyakit berbasis riset.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 9-15 Juli 2025 Naik Rp 31,36 per Kg
Diskusi terbuka dengan para praktisi di lapangan menambah wawasan baru bagi para pekebun swadaya. Mereka tak hanya menyaksikan praktik terbaik, tapi juga diajak menggali apa yang bisa diadaptasi ke kebun masing-masing.
Pelatihan ini menandai satu langkah penting dalam perjalanan panjang menuju peningkatan produktivitas dan daya saing petani sawit swadaya. Tidak sekadar menambah ilmu, pelatihan ini membekali peserta dengan pola pikir baru, bahwa keberhasilan budidaya sawit bukan hanya soal kerja keras di lapangan, tapi juga soal kerja cerdas berbasis pengetahuan. (T2)
