Cici Tiansari juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak. Menurutnya, keberlanjutan hanya bisa dicapai bila semua aktor dalam rantai pasok, termasuk petani perempuan, mendapat tempat dan dukungan yang setara.
Kehadiran mereka mendapat apresiasi dari KBRI Brussel yang turut memfasilitasi pertemuan. Rukaiyah Rafik, pendamping petani sawit perempuan dalam roadshow ini, menegaskan bahwa forum semacam ini penting untuk membuka mata para pemangku kebijakan Eropa.
“Ini langkah penting untuk memastikan suara petani perempuan tidak lagi diabaikan. Dialog ini diharapkan membuka jalan menuju regulasi yang adil, inklusif, dan benar-benar mendorong keberlanjutan. Tanpa petani kecil di hulu, target no deforestation mustahil tercapai,” katanya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode II-September 2025 Naik Tipis
Apa yang disuarakan para petani perempuan ini sesungguhnya menggambarkan dilema besar dalam perdagangan global. Di satu sisi, dunia menuntut produk yang berkelanjutan. Namun di sisi lain, tanpa dukungan nyata, regulasi justru bisa menyingkirkan mereka yang paling membutuhkan akses pasar, petani kecil.
Kehadiran Nurhayati, Umi, dan Cici di Eropa menjadi pengingat bahwa kebijakan global tidak boleh hanya lahir dari ruang rapat yang jauh dari realitas lapangan. Suara mereka menegaskan, bahwa keberlanjutan sejati hanya bisa terwujud bila melibatkan semua pihak, termasuk petani perempuan yang selama ini berdiri di garda depan menjaga bumi sekaligus menghidupi keluarganya. (T2)
