Tantangan dan Harapan Baru
Bagi perkebunan sawit, terutama di Indonesia, temuan ini sangat relevan. Data dari PT Sampoerna Agro mencatat, pada 2020 serangan kumbang tanduk di tanaman sawit muda (TBM) mencapai 1.764 hektare, dengan tingkat serangan bervariasi hingga 38%. Biaya pengendalian mencapai Rp14,7 juta per hektare, menggunakan kombinasi metode manual, perangkap feromon, hingga insektisida kimia.
“Dengan temuan ini, S. multijuga bisa menjadi alternatif baru yang lebih berkelanjutan. Namun penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk mengidentifikasi senyawa aktifnya serta memastikan efektivitasnya di skala perkebunan besar,” catat tim peneliti.
Seiring meningkatnya tuntutan pasar global agar industri sawit lebih ramah lingkungan, inovasi pengendalian hama berbasis hayati seperti ini dinilai strategis. Selain mengurangi ketergantungan pada insektisida kimia yang berisiko mencemari lingkungan, penggunaan tanaman lokal juga sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Terima Kelola 1,5 Juta Hektare Lahan Sawit dari Satgas PKH
“Temuan ini adalah awal. Ke depan, riset harus melangkah lebih jauh untuk mengekstrak senyawa aktif, menguji efektivitasnya di berbagai kondisi agroekosistem, dan mengevaluasi dampak jangka panjangnya,” tegas para peneliti. (T2)
