InfoSAWIT, KAUR – Di tengah hamparan kebun sawit, jagung tumbuh berdampingan. Pemandangan ini bukan hasil program instan, melainkan praktik turun-temurun yang kini kembali diperhatikan melalui kunjungan Rosa de Vos dari Plant Production Systems Group, Wageningen University & Research, dalam kerangka proyek SustainPalm.
CEO Arconesia, Jusrian Saubara Orpayanda, menuturkan hampir tidak ada lahan sawit di sekitar permukiman yang dibiarkan kosong. “Kalau lahan bisa diakses, pasti ditanami. Lebih sering daripada tidak, yang ditanam adalah jagung. Sayang kalau tanah dibiarkan kosong,” ujarnya dikutip InfoSAWIT dari Linkedin-nya, Jumat (19/9/2025).
Praktik tumpang sari ini sejatinya lahir dari kebutuhan, bukan sekadar mengikuti program pemerintah. Meski ada inisiatif resmi yang mendorong pola tanam sawit-jagung atau sawit-padi, para petani di Kaur sudah lebih dulu mempraktikkannya. Bahkan ketika pemerintah menyalurkan benih, kualitasnya kerap diragukan. Petani lebih memilih membeli benih sendiri yang lebih terjamin ketimbang mengambil risiko gagal panen.
BACA JUGA: Hasil Riset: Petani Sawit Swadaya Terancam Tersisih dari Pasar Sawit Berkelanjutan
Alasan memilih jagung pun bukan semata soal keuntungan. Secara finansial, jagung kalah jauh dibanding tanaman hortikultura seperti semangka. Namun, sejarah pertanian di desa menjelaskan pilihan itu. Dahulu, padi mendominasi. Sayangnya, irigasi yang rusak bertahun-tahun membuat petani beralih ke tanaman yang lebih tahan lahan kering—jagung. Dari situ terbentuk ekosistem: tengkulak yang membeli hasil panen, toko yang menyediakan benih dan pupuk, hingga pengetahuan teknis yang menyebar. Ketika sawit masuk, jagung sudah lebih dulu mengakar.
Dampak positifnya terasa nyata. Tumpang sari memungkinkan petani menghasilkan pangan tanpa harus membuka hutan baru. Dengan 16 juta hektar lahan sawit di Indonesia—40% di antaranya dikelola petani kecil—potensi kontribusi terhadap ketahanan pangan sangat besar.
Namun, tantangan tetap ada. Bagaimana menjadikan sistem ini arus utama? “Mengajarkan tumpang sari kepada petani sawit yang tidak terbiasa menanam jagung tidaklah mudah. Butuh ekosistem lengkap: input berkualitas, pengetahuan teknis, dan akses pasar,” terang Jusrian. Tanpa itu, adopsi hanya akan berjalan sporadis.
Pengalaman dari Kaur mengajarkan bahwa keberhasilan tumpang sari bukan sekadar soal bukti agronomi. Aspek sosial dan bisnis memegang peranan sama pentingnya dalam memastikan praktik ini dapat berkembang dan memberi manfaat luas bagi masyarakat. (T2)
