Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui penelitian bahan tanam yang tahan terhadap perubahan iklim, serta eksplorasi peluang pendapatan baru berbasis nature-based solutions seperti penggunaan biochar. Upaya ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menciptakan pertanian yang produktif sekaligus ramah lingkungan.
Dalam sesi panel lainnya bertajuk “Green Business Building” yang digelar pada Sabtu (11/10), Dr. Götz Martin, CEO Nature-Based Solutions Sinar Mas Agribusiness and Food, menekankan pentingnya membangun model bisnis hijau yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga memiliki fondasi ekonomi yang kuat.
“Bisnis hijau tidak akan berhasil hanya karena mereka ‘hijau’. Mereka akan berhasil karena memiliki model bisnis yang berkelanjutan, yang mampu memberikan manfaat nyata bagi planet ini sekaligus bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain memajukan sektor pertanian, Sinar Mas Agribusiness and Food juga berupaya memperkuat perekonomian lokal melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dalam paviliun perusahaan di IISF 2025, pengunjung disambut dengan berbagai produk bernilai tambah hasil karya pengusaha desa, yang merupakan bagian dari lebih dari 100 UMKM yang telah mendapatkan dukungan melalui program Bright Future Initiative.
BACA JUGA: KPBN Gelar Tender Perdana Kopi, Tembus Transaksi Rp340 Juta
Program tersebut bertujuan membantu para pelaku UMKM mengembangkan produk inovatif berbasis sumber daya lokal, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana keberlanjutan dapat diwujudkan tidak hanya di tingkat korporasi, tetapi juga di tingkat komunitas akar rumput.
Melalui sinergi antara inovasi teknologi, pelatihan petani, penelitian bahan tanam, dan kolaborasi lintas sektor, Sinar Mas Agribusiness and Food menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar wacana, melainkan strategi jangka panjang untuk memastikan ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan berjalan beriringan.
Dengan visi “Feeding the Future”, perusahaan terus mendorong transformasi industri kelapa sawit menjadi lebih produktif, inklusif, dan hijau—menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai produsen utama minyak sawit dunia, tetapi juga sebagai pelopor dalam pertanian berkelanjutan di tingkat global. (T2)
