Studi itu juga memperingatkan bahwa ketergantungan India terhadap minyak sawit menjadikan komoditas ini sebagai “jangkar harga” minyak nabati di pasar domestik, namun sekaligus membuat India rentan terhadap kebijakan negara pemasok utama seperti Indonesia dan Malaysia, termasuk kebijakan larangan ekspor, pengalihan minyak sawit ke biodiesel, hingga ketegangan geopolitik.
Untuk memperkuat ketahanan pasar, studi tersebut mengusulkan pembangunan portal data minyak nabati terpadu yang memantau harga global, volume impor, dan tren ritel, lengkap dengan alat peramalan berbasis kecerdasan buatan (AI) serta sistem peringatan dini untuk simulasi kebijakan.
Selain itu, penelitian tersebut mendorong adanya konsultasi resmi dengan asosiasi industri, kelompok petani, dan pelaku FMCG sebelum setiap revisi tarif, serta peningkatan kapasitas pengelolaan risiko melalui pelatihan lindung nilai dan perdagangan berjangka.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Cenderung Stagnan pada Rabu (15/10), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
Langkah-langkah itu diyakini dapat membantu menstabilkan harga, mengendalikan inflasi, meningkatkan kepercayaan investor, serta memperkuat program diversifikasi minyak nabati domestik.
“Stabilitas tarif minyak sawit merupakan kunci menjaga keseimbangan pasar, mengurangi ketergantungan impor, dan menyelaraskan kebijakan minyak nabati India dengan tujuan ekonomi serta ketahanan pangan nasional,” demikian kesimpulan studi tersebut. (T2)
