InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Pemerintah Malaysia memperkirakan harga rata-rata minyak sawit mentah (CPO) pada tahun 2026 akan berada di kisaran 3.900 hingga 4.100 ringgit (sekitar US$925–970) per ton, lebih rendah dibandingkan harga tahun ini. Proyeksi tersebut didorong oleh kenaikan produksi global serta meningkatnya pasokan minyak nabati pesaing seperti kedelai dan bunga matahari.
Dalam laporan Economic Outlook 2026 yang dirilis bersamaan dengan Anggaran Belanja Negara 2026 pada Jumat (10/10), pemerintah menyebut subsektor kelapa sawit diperkirakan mengalami kenaikan produksi CPO tahun depan. Peningkatan itu dipicu oleh hasil tandan buah segar (TBS) yang lebih tinggi dan peningkatan angka rendemen minyak (oil extraction rate/OER).
Pada perdagangan Selasa (14/10), Harga kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Desember 2025 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM 18 per ton atau turun 0,4% menjadi RM 4.481 (US$1.061,09) per ton pada jeda tengah hari. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi selama dua sesi berturut-turut.
Dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Kamis (16/10/2025), menurut laporan tersebut, prospek cuaca yang lebih bersahabat serta perluasan area perkebunan yang telah matang panen turut mendukung peningkatan produksi. Selain itu, perbaikan praktik panen dan penggunaan teknologi mekanisasi yang semakin luas juga diyakini akan menambah efisiensi dan mengurangi kehilangan hasil.
“Peningkatan OER, yang dihasilkan dari aktivitas panen yang lebih sering dan pengelolaan kebun yang lebih baik, akan meningkatkan kualitas buah dan mengurangi potensi kerugian,” tulis pemerintah dalam laporan itu.
Kondisi tersebut diharapkan mampu memberikan dorongan positif bagi pertumbuhan subsektor kelapa sawit sepanjang 2026.
BACA JUGA: BEI Tegur Emiten Sawit, Minta Klarifikasi Soal Lahan di Kawasan Hutan
Di sisi lain, ekspor komoditas pertanian Malaysia diproyeksikan tumbuh 3,3% tahun depan, ditopang oleh harga yang kompetitif dan permintaan global yang tetap kuat terhadap minyak sawit serta produk turunan berbasis sawit.
Dengan outlook positif pada sisi produksi dan ekspor, pemerintah optimistis subsektor kelapa sawit tetap menjadi salah satu penopang utama ekonomi agrikultur Malaysia, meski harus berhadapan dengan tantangan fluktuasi harga global dan persaingan dari minyak nabati lain. (T2)
