InfoSAWIT, NEW DELHI — Sebuah studi terbaru merekomendasikan agar India, importir minyak nabati terbesar di dunia, menerapkan kerangka tarif jangka panjang yang transparan dan konsisten guna mengakhiri gejolak kebijakan selama satu dekade terakhir yang dinilai telah mengacaukan harga dan menghambat investasi di sektor minyak nabati.
Riset bertajuk “Tariff Volatility and Stakeholder Dynamics in India’s Edible Oil Sector” itu disusun bersama oleh Centre for Economic Studies and Planning, Jawaharlal Nehru University, VeK Policy Advisory and Research, dan Assocham.
Menurut penelitian tersebut, India—yang mengimpor sekitar 60–65% kebutuhan minyak nabatinya—telah mengubah tarif impor lebih dari 25 kali sejak 2015. Perubahan yang terlalu sering itu menimbulkan ketidakpastian mulai dari pemasok internasional hingga pelaku industri dan konsumen di dalam negeri.
“Kebijakan tarif di sektor minyak nabati India harus berevolusi dari instrumen reaktif menjadi alat strategis,” ujar TS Vishwanath, Pendiri dan Ketua Eksekutif VeK Policy Advisory, usai peluncuran laporan di New Delhi, dikutip InfoSAWIT dari India Times, Kamis (16/10/2025).
Palm oil atau minyak sawit menjadi komoditas kunci dalam dinamika ini karena menyumbang sekitar 60% dari total impor minyak nabati India. Oleh karena itu, studi merekomendasikan agar pemerintah membentuk rentang tarif yang dapat diprediksi, memperkuat sistem data pasar, serta melibatkan pemangku kepentingan secara formal sebelum perubahan kebijakan dilakukan.
Penelitian yang dilakukan untuk mendukung kebijakan National Mission on Edible Oils–Oil Palm (NMEO-OP) itu juga menemukan bahwa perubahan tarif secara mendadak menambah kompleksitas perencanaan impor dan meningkatkan biaya transaksi bagi pelaku industri pengolahan serta pedagang.
BACA JUGA: Pemerintah Siapkan Skema DMO Sawit, Ekspor Bisa Terpangkas Demi Sukseskan Program B50
Kenaikan bea masuk biasanya langsung memicu lonjakan harga ritel, sementara penurunan tarif kerap tidak segera diikuti oleh penurunan harga di tingkat konsumen. Di sisi lain, margin keuntungan industri penyulingan menjadi tidak pasti akibat perbedaan tarif yang tidak konsisten antara minyak mentah dan minyak olahan.
Kondisi tersebut membuat perusahaan FMCG kesulitan menentukan strategi harga jangka panjang, sementara pemasok internasional menghadapi fluktuasi permintaan yang sulit diprediksi.
