Namun, upaya peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan pupuk. Diperlukan pula penerapan teknologi manajemen akar dan daun agar penyerapan hara menjadi lebih efisien. Dengan manajemen akar yang baik, efisiensi pupuk meningkat, daya serap nutrisi optimal, dan produktivitas bisa naik secara signifikan.
Beberapa analis sempat pesimistis, bahkan menyebut program B-50 sebagai lonceng kematian bagi industri sawit. Padahal, anggapan itu berlebihan. Jika pengelolaan diperbaiki dan pupuk subsidi tersedia, maka B-50 justru bisa menjadi momentum kebangkitan energi hijau berbasis sawit.
Saat ini, Indonesia masih memiliki sekitar 3,5 juta hektare lahan berizin yang belum ditanami, serta sekitar 4 juta hektare kebun sawit yang stagnan akibat lemahnya manajemen. Jika potensi ini dioptimalkan, sawit tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga pilar ketahanan energi nasional melalui bioenergi.
BACA JUGA: INSTIPER Yogyakarta Dirikan Pusat Riset Drone dan Remote Sensing, Gelar INSTIPER Drone Festival 2025
Sudah saatnya pemerintah berpindah dari wacana ke aksi nyata. Pupuk subsidi dan inovasi teknologi akar bukan sekadar bantuan teknis, tetapi strategi nasional untuk mengembalikan kejayaan sawit Indonesia—sektor yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor, lapangan kerja, dan energi berkelanjutan bangsa. (*)
Penulis: Memet Hakim / Pengamat Sosial dan Perkebunan
Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.
