InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Isu keberlanjutan minyak sawit kembali mencuat dalam forum tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) RT2025 di Kuala Lumpur. Di tengah semangat kolaborasi lintas sektor, muncul keprihatinan mendalam terhadap kondisi petani sawit kecil bersertifikat yang kini menghadapi kemandekan pasar kredit.
Dalam kesempatan tersebut, Sascha Tischler dari relations Gesellschaft für Kommunikation mbH—yang juga aktif dalam jaringan Forum Nachhaltiges Palmöl (FONAP)—mengungkapkan hasil pertemuan inspiratif dengan sejumlah anggota FONAP seperti CarbonSpaceTech, Koltiva, dan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH. Namun, di balik semangat dialog itu, sebuah percakapan yang dianggap “mengkhawatirkan” terjadi bersama organisasi petani sawit kecil, Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), yang diwakili oleh Sabarudin dan Maryanti Taufik.
Menurut Tischler, pertemuan itu membuka fakta lapangan yang tidak bisa diabaikan. Sabarudin, Ketua SPKS, menegaskan bahwa pasar kredit bagi petani sawit bersertifikat di bawah naungan RSPO telah nyaris kolaps. Artinya, petani anggota SPKS yang telah memenuhi standar keberlanjutan tidak lagi mampu menjual hasil sawit mereka sebagai produk bersertifikat.
BACA JUGA: 12 Kelompok Tani di Ketapang Raih Sertifikat RSPO di RT2025 Kuala Lumpur, Meliputi 1.223 Petani
“Pasar kredit bagi petani sawit kecil praktis tidak berjalan. Banyak anggota kami kehilangan akses untuk menjual hasilnya sebagai produk berkelanjutan,” ungkap Sabarudin dikutip InfoSAWIT dari Linkedin Sascha T, Kamis (6/11/2025). “Kami telah menyerukan hal ini berulang kali, baik kepada RSPO maupun kepada FONAP, agar ada solusi kuat dan nyata bagi petani.”
Krisis pasar kredit tersebut bukanlah isu baru. Sejak tahun 2023 hingga 2024, sejumlah organisasi yang mewakili petani kecil telah melaporkan hal serupa—terutama setelah munculnya kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang memperketat akses komoditas ke pasar Eropa. Akibatnya, banyak petani swadaya (independen) merasa semakin tersingkir dari rantai pasok global, meskipun telah berinvestasi untuk memenuhi sertifikasi berkelanjutan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar, apakah sertifikasi RSPO masih memberikan nilai tambah bagi petani kecil, jika sistem pasar yang menopangnya tidak lagi berjalan efektif?
BACA JUGA: Fortasbi: Keberlanjutan Sawit Harus Berjalan Bersama Petani
Menanggapi hal ini, Tischler mengungkapkan pentingnya mempertimbangkan alternatif sistem sertifikasi yang lebih baik dan berorientasi pada etika. Salah satunya adalah UEBT (Union for Ethical BioTrade), Sourcing with Respect, yang menekankan prinsip perdagangan berkeadilan dan keberlanjutan sosial.
Sejak tahun ini, FONAP juga mulai membuka ruang bagi pendekatan baru dengan mengakui kombinasi sertifikasi UEBT dan EU Organic sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap minyak sawit berkelanjutan. Menurut Tischler, skema semacam ini dapat menjadi jalan keluar bagi petani kecil independen agar kembali menjadi bagian dari rantai pasok internasional melalui sertifikasi alternatif yang lebih inklusif dan sesuai kebutuhan pasar.
Forum RSPO RT2025 pun menjadi pengingat penting: di tengah gencarnya kampanye global tentang keberlanjutan, nasib petani kecil harus tetap menjadi fokus utama. Tanpa dukungan sistem pasar yang adil dan fungsional, tujuan mulia dari sertifikasi berkelanjutan akan sulit tercapai secara sosial dan ekonomi. (T2)
