“Keadilan dalam perdagangan sawit global juga harus berarti keadilan bagi para petani dan pekerja yang menopang rantai pasok ini,” tegasnya.
Ia menambahkan, semangat kearifan lokal Indonesia, seperti Tri Hita Karana dari Bali, dapat menjadi panduan dalam membangun industri sawit yang etis dan berkelanjutan. Filosofi ini mengajarkan tiga harmoni:
Parahyangan — harmoni dengan Tuhan,
Pawongan — harmoni dengan sesama manusia,
Palemahan — harmoni dengan alam.
“Nilai-nilai itu harus menjadi fondasi dalam membangun industri sawit global yang bukan hanya produktif, tetapi juga manusiawi,” pungkasnya. (T2)
