InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Kontrak berjangka crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (14/11), seiring pelaku pasar mengambil posisi hati-hati meski harga minyak kedelai di bursa internasional menunjukkan tren penguatan.
Minyak kedelai—salah satu komoditas yang sering menjadi acuan pergerakan CPO—tercatat menguat di Chicago Board of Trade (CBOT). Di bursa Dalian, kontrak No.1 minyak kedelai untuk pengiriman Januari 2026 juga naik signifikan, meningkat 93 yuan dan ditutup pada 4.215 yuan per ton. Dorongan positif dari pasar minyak nabati global ini semestinya memberi sentimen penguatan, namun pelaku pasar CPO tetap menahan diri.
Analis dan trader CPO, David Ng, mengatakan kekhawatiran mengenai tingkat produksi sawit masih membayangi pasar sehingga menahan potensi kenaikan harga. “Kami melihat level support di RM4.100 per ton dan resistance di RM4.200 per ton,” katanya dilansir InfoSAWIT dari Bernama, Senin, (17/11/2025).
Pada penutupan perdagangan, kontrak spot November 2025 berada di RM3.935 per ton. Kontrak Desember 2025 naik RM13 menjadi RM4.100 per ton, sementara kontrak Januari 2026 menguat tipis RM3 ke RM4.128 per ton.
Sebaliknya, kontrak-kontrak bulan selanjutnya bergerak menurun. Februari 2026 melemah RM8 menjadi RM4.145 per ton, Maret 2026 turun RM13 ke RM4.159 per ton, dan April 2026 terkoreksi RM14 menjadi RM4.167 per ton.
Volume transaksi turut menyusut menjadi 92.204 lot dibanding 106.879 lot pada perdagangan sebelumnya. Meski begitu, open interest justru naik menjadi 269.476 kontrak dari 265.902 kontrak sehari sebelumnya, mengindikasikan posisi terbuka pelaku pasar masih cukup kuat.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode II-November 2025 Anjlok Rp 104,8 Per Kg
Untuk pasar fisik, harga CPO November Selatan tercatat bertahan di RM4.080 per ton. Pasar kini menanti lebih banyak indikator produksi serta arah pergerakan minyak nabati global yang akan menentukan dinamika harga CPO dalam beberapa pekan ke depan. (T2)
