InfoSAWIT, SURABAYA — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menegaskan dominasi akademiknya dalam riset kelapa sawit nasional. Untuk kali ketiga berturut-turut, kampus teknik tersebut menjadi penerima pendanaan terbanyak dalam Program Grant Riset Sawit (GRS) 2025 yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
GRS merupakan skema pendanaan riset tahunan yang mengkaji berbagai aspek perkebunan sawit, mulai dari hulu hingga hilir. Program ini bertujuan memperkuat pengembangan industri kelapa sawit nasional sekaligus menjaga keberlanjutannya. Tahun ini, lebih dari 100 proposal riset diseleksi melalui tahap ketat, dan hanya 55 yang berhasil lolos pendanaan.
ITS kembali tampil sebagai kampus dengan kontribusi riset terbesar. Enam proposal dari para dosennya dinyatakan lolos ke tahap presentasi nasional dan memperoleh pendanaan. Capaian tersebut menandai konsistensi ITS sebagai salah satu motor utama inovasi teknologi sawit di Indonesia.
BACA JUGA: Bappenas Tegaskan Peran Strategis Sawit sebagai Motor Ekonomi Hijau Menuju Indonesia Emas 2045
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany, menyampaikan apresiasi atas pencapaian tim peneliti kampusnya. “Tiga tahun berturut-turut meraih pendanaan GRS terbanyak membuktikan konsistensi kami dalam menguatkan riset yang relevan bagi industri sawit,” ujarnya dikutip InfoSAWIT dari ITS, Selasa (18/11/2025). Ia menegaskan keberhasilan ini merupakan buah kolaborasi lintas disiplin, mulai dari fisika, mesin, informatika, geomatika, hingga matematika dan lingkungan.
Salah satu proposal yang menyita perhatian datang dari Departemen Fisika ITS melalui penelitian Dr Lila Yuwana. Ia mengembangkan prototipe alat angkut TBS berbasis gerobak crawler bertenaga listrik. Inovasi ini diharapkan meningkatkan produktivitas petani sawit rakyat sekaligus mempercepat proses pengangkutan buah.
Dari Departemen Teknik Mesin, Moch Solichin mengajukan penelitian bertajuk Implementasi Digital Twin Multifungsi untuk Monitoring Cerdas. Riset ini merancang model digital yang mampu mengamati tingkat kematangan buah serta memantau performa mesin di industri sawit, sehingga proses produksi menjadi lebih presisi.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Buka Rekrutmen Baru, Dorong Transformasi SDM Sawit Nasional
Pendekatan berbasis data dan penginderaan jauh muncul kuat dalam proposal dari Departemen Teknik Informatika. Dr Kelly Rossa Sungkono mengembangkan metode taksasi produksi sawit dengan mengintegrasikan citra satelit multispektral dan kamera multispektral. Sementara itu, Dr Hepi Hapsari Handayani dari Departemen Geomatika memperluas kajian tersebut dengan integrasi drone dan sensor gas VOC untuk memprediksi kematangan tandan buah secara lebih akurat.
Aspek keselamatan kerja juga mendapatkan perhatian melalui riset Dr Adithya Sudiarno dari Departemen Teknik Sistem dan Industri. Ia mengusulkan program ARECAVERSE, sebuah inovasi berbasis safety metaverse untuk mengurangi kecelakaan kerja menuju standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Proposal terakhir datang dari Departemen Matematika yang diwakili Dr Endah Rokhmati. Ia mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Sawit untuk mendukung perhitungan kredit karbon dan premi asuransi berbasis data. Model ini diharapkan mendorong perlindungan usaha dan pengelolaan risiko yang lebih baik di sektor sawit.
BACA JUGA: Ini Alasan Dibalik 18 November Ditetapkan sebagai Hari Sawit Nasional
Deretan proposal yang lolos pendanaan tahun ini memperlihatkan bagaimana ITS terus mengembangkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri. Melalui GRS, ITS juga turut berkontribusi pada pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari ketahanan pangan, energi bersih, industrialisasi berkelanjutan, hingga mitigasi perubahan iklim.
Dengan keberhasilan ini, ITS kembali menempatkan dirinya sebagai pusat unggulan riset sawit nasional—menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan industri dalam satu ekosistem inovasi yang berkelanjutan. (T2)
