InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit kembali melemah dan turun ke bawah RM4.000 per ton, menyentuh level terendah dalam tiga pekan terakhir. Pelemahan ini sejalan dengan penurunan harga minyak kedelai serta tekanan dari kinerja ekspor Malaysia yang masih lesu.
Minyak kedelai, yang merupakan pesaing utama minyak sawit di pasar pangan dan bahan bakar, ditutup melemah 1,2 persen pada perdagangan Senin setelah mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut. Harga kedelai juga turun hingga 0,9 persen dalam perdagangan semalam, mencapai level terendah dalam lebih dari enam pekan. Pasar terus mencermati apakah China akan memenuhi target pembelian 12 juta ton hasil panen Amerika Serikat hingga akhir tahun.
Tekanan terhadap harga minyak sawit semakin besar seiring lemahnya permintaan global. Data Intertek Testing Services menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada paruh pertama Desember turun 16 persen secara bulanan, mencerminkan kehati-hatian pembeli di tengah kondisi pasar yang belum pulih.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Pada Rabu (17/12), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Bergerak Tipis
“Saya menduga permintaan tidak akan sekuat yang diantisipasi pasar pada musim perayaan mendatang,” ujar Budiman Suwardi, Kepala Divisi Treasury dan Markets di Prime EcoHarvest Commodities, dilansir InfoSAWIT, dari The Edge Market, Kamis (18/12/2025). Ia menambahkan, curah hujan di kawasan Asia Tenggara juga menjadi faktor yang perlu dicermati hingga akhir tahun, meski sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap produksi maupun logistik.
Di sisi lain, penguatan nilai tukar ringgit diperkirakan akan kembali mengungguli mata uang Asia lainnya untuk tahun kedua berturut-turut. Sejumlah analis bahkan memperkirakan kinerja positif tersebut berlanjut hingga 2026. Kondisi ini berpotensi mengurangi daya tarik komoditas tropis yang diperdagangkan dalam ringgit, termasuk minyak sawit, bagi pembeli luar negeri. (T2)
