InfoSAWIT, KALIMANTAN TIMUR — Langkah petani sawit Indonesia menembus standar keberlanjutan global kembali mencatat sejarah. Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, anggota Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan (FORTASBI), resmi menjadi koperasi pertama di Indonesia yang melakukan pengungkapan data lingkungan secara global melalui CDP (Carbon Disclosure Project).
Tak sekadar berpartisipasi, koperasi petani yang telah mengantongi sertifikat RSPO ini justru mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih peringkat B dari CDP—serta skor tertinggi untuk kategori SME (Usaha Kecil dan Menengah).
Penilaian CDP dikenal menggunakan metodologi independen dan ketat. Aspek yang dievaluasi mencakup transparansi data, kesadaran terhadap risiko iklim, tata kelola lingkungan, hingga aksi nyata organisasi dalam merespons tantangan perubahan iklim dan deforestasi. Pada 2025, hampir 20.000 organisasi dinilai dan lebih dari 22.100 entitas melaporkan data mereka melalui sistem CDP—sebuah rujukan utama bagi investor dan pembeli global dalam menilai kesiapan rantai pasok menuju ekonomi rendah emisi.
BACA JUGA: Fortasbi Ungkap Beratnya Jalan Petani Sawit Menuju ISPO: Biaya Tinggi hingga Masalah Kawasan Hutan
Ketua Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, Jamaluddin, menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar pemenuhan administratif. “Peringkat B dari CDP bukan hanya pengakuan. Ini adalah pernyataan sikap. Kami ingin menunjukkan bahwa koperasi petani—yang sering diposisikan di pinggiran—mampu memenuhi standar transparansi lingkungan global yang selama ini didominasi korporasi besar,” ujarnya dikutip InfoSAWIT dari Fortasbi, Sabtu (27/12/2025).
Menurut Jamaluddin, keputusan untuk mengikuti pengungkapan data lingkungan secara global dilakukan secara sadar. Transparansi dipilih, meski konsekuensinya adalah membuka diri terhadap penilaian yang ketat dan independen. “Kami percaya masa depan petani tidak ditentukan oleh pembelaan normatif, tetapi oleh data yang terbuka, disiplin pengelolaan, dan keberanian untuk bertransformasi,” katanya.
Ia menambahkan, capaian tersebut merupakan buah kerja nyata para petani anggota koperasi dalam mengelola kebun secara bertanggung jawab—menjaga lanskap, mengatur produksi, serta menyesuaikan praktik usaha dengan tuntutan iklim dan pasar masa depan. “Ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan beban tambahan, melainkan strategi inti untuk bertahan dan bertumbuh,” tegas Jamaluddin.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Perkuat Mitigasi Iklim, FORTASBI Dorong Praktik Rendah Karbon
Meski demikian, ia menilai pencapaian ini bukan garis akhir. Justru sebaliknya, menjadi pijakan awal untuk memperkuat tata kelola, menjaga konsistensi pelaporan, serta mengintegrasikan kepatuhan pasar global ke dalam operasional koperasi dan praktik petani anggota. Ia pun mengajak koperasi lain dan pelaku usaha untuk mulai bergerak. “Transparansi lingkungan bukan hak eksklusif perusahaan besar. Ini tanggung jawab kolektif jika pertanian Indonesia ingin tetap relevan dan berdaya saing di tingkat global,” tutupnya.
Dari sisi global, CEO CDP Sherry Madera menegaskan bahwa skor CDP menjadi indikator penting bagi dunia usaha dan keuangan internasional. “Skor CDP mencerminkan komitmen terhadap data berkualitas tinggi yang memungkinkan organisasi mengambil keputusan ekonomi yang positif bagi bumi, meningkatkan daya saing, dan memperkuat ketahanan jangka panjang,” ujarnya.
FORTASBI sendiri menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Prestasi Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera dinilai semakin menegaskan bahwa petani sawit swadaya tersertifikasi terus bergerak maju—tidak hanya dalam produksi, tetapi juga dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, transparan, dan bertanggung jawab. (T2)
