“Indonesia punya populasi besar sehingga bisa menyerap sawit untuk biodiesel tanpa mengganggu ekspor. Malaysia berbeda, kami sangat bergantung pada pasar ekspor,” ujarnya.
Helmy juga menepis tudingan bahwa ekspansi sawit Malaysia menjadi penyebab utama deforestasi global. Ia menegaskan, perkebunan sawit hanya mencakup sekitar 8,5 persen dari total lahan tanaman minyak dunia, atau sekitar 28 juta hektare—jauh lebih kecil dibandingkan kedelai, rapeseed, dan bunga matahari yang mencapai 288 juta hektare.
Meski menggunakan lahan yang relatif kecil, sawit menyumbang sekitar 37 persen pasokan minyak nabati global. Bahkan, luas kebun sawit hanya sekitar 0,6 persen dari total daratan dunia yang mencapai 4,8 miliar hektare.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Januari 2026 Turun, BK US$ 74/MT dan PE Tembus US$ 91,56/MT
“Kelapa sawit tetap menjadi minyak nabati paling efisien dan produktif, kaya tocotrienol dan vitamin E, serta semakin banyak menggantikan bahan berbasis petrokimia, termasuk di industri kosmetik,” tutup Helmy. (T2)
