Ekonomi Sri Lanka Bangkit, Permintaan Minyak Sawit Menguat di Tengah Lonjakan Industri Pangan

oleh -9.547 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi pabrik minyak goreng sawit.

InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Sri Lanka perlahan menapaki jalur pemulihan ekonomi dengan prospek pertumbuhan yang semakin solid. Produk domestik bruto (PDB) negara Asia Selatan itu diproyeksikan tumbuh 3,3 persen pada 2025 dan diperkirakan melampaui 4 persen pada 2026. Pemulihan ini ditopang oleh menguatnya sektor pariwisata, konsumsi domestik, serta daya saing ekspor.

Dilansir InfoSAWIT dari tulisan Roshan Martin dari Malaysian Palm Oil Council (MPOC), Minggu (4/1/2026), geliat ekonomi tersebut turut mendorong transformasi sektor pangan Sri Lanka. Urbanisasi, perubahan pola konsumsi, serta pertumbuhan sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA) menciptakan permintaan baru terhadap bahan baku pangan yang andal dan efisien, khususnya minyak dan lemak nabati.

Saat ini, konsumsi minyak dan lemak pangan Sri Lanka berada di kisaran 230.000 hingga 250.000 ton per tahun. Namun, produksi domestik hanya mampu memenuhi sekitar 65.000 hingga 70.000 ton, sehingga defisit pasokan harus ditutup melalui impor. Dalam struktur tersebut, minyak sawit menempati posisi strategis sebagai sumber pasokan utama setelah minyak kelapa.

BACA JUGA: India Jadi Penopang Utama Pasar Sawit 2026, China Tertahan Stok, Eropa Dibayangi Aturan Deforestasi

Di tengah kebutuhan itu, minyak sawit asal Malaysia telah memantapkan diri sebagai pilihan utama bagi industri makanan Sri Lanka. Selain menjamin kesinambungan pasokan, sawit Malaysia juga membuka peluang diversifikasi produk melalui specialty fats, bahan fungsional, dan solusi bernilai tambah berbasis sawit. Dalam lima tahun terakhir, Malaysia konsisten menjadi pemasok terbesar, menegaskan posisinya sebagai mitra dagang utama Sri Lanka di sektor minyak sawit.

 

Pasar Makanan Praktis dan Layanan Antar Tumbuh Pesat

Prospek sektor pangan Sri Lanka kian cerah seiring pertumbuhan pasar makanan praktis dan layanan pesan-antar. Data Statista menunjukkan, pasar makanan praktis di Sri Lanka diproyeksikan menghasilkan pendapatan sekitar US$2,64 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 7,91 persen hingga 2029. Permintaan ini didorong oleh kebutuhan masyarakat urban akan makanan cepat saji yang tetap bergizi.

Pada saat yang sama, pasar layanan pesan-antar makanan daring diperkirakan mencapai €968,10 juta pada 2025, dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 16,05 persen pada periode 2025–2028. Tren digitalisasi ini menandai perubahan struktural perilaku konsumen dan memperkuat prospek industri jasa boga di negara tersebut.

BACA JUGA: Peluang Cerah Lilin Berbasis Sawit, Malaysia Bidik Pasar Global Bernilai Miliaran Dolar

 

Permintaan Sawit Meningkat di Pasar Sri Lanka

Meski secara volume relatif kecil, Sri Lanka dikenal sebagai pasar sawit yang stabil dan konsisten, dengan impor tahunan berkisar 80.000 hingga 100.000 ton. Produk refined, bleached, and deodorised (RBD) palm olein masih menjadi tulang punggung sektor HORECA, terutama untuk kebutuhan penggorengan. Di sisi lain, minat terhadap specialty fats untuk industri bakery dan produk non-dairy juga mulai tumbuh, membuka ruang diversifikasi bagi pemasok minyak sawit baik Indonesia dan Malaysia. (T2)

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com