InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Kontrak minyak sawit mentah Malaysia (CPO) kembali menunjukkan tren positif pada akhir pekan ini, dengan berpeluang mencatat kenaikan mingguan setelah menguat tiga hari berturut-turut di Bursa Derivatives Malaysia. Dorongan utama datang dari gejolak pasar minyak nabati global dan kebijakan ekspor Indonesia yang dinilai bakal memperkecil pasokan saingannya.
Dilansir Reuters, Jumat (9/1/2026), pada sesi Jumat siang, kontrak CPO berjangka Maret naik RM 35 per ton atau naik 0,87% menjadi RM 4.078 per metrik ton. Sepanjang pekan ini, harga kontrak acuan tersebut sudah mencatat penguatan sekitar 2,18%, menandakan sentimen pasar yang mulai membaik.
Analis komoditas dari Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan bahwa potensi kenaikan pungutan ekspor minyak sawit Indonesia akan menguntungkan posisi ekspor sawit Malaysia, karena produk Malaysia akan menjadi lebih kompetitif di pasar global jika rival utamanya membatasi aliran barang keluar negeri.
BACA JUGA: Menkeu Bongkar Manipulasi Ekspor Sawit: 10 Perusahaan Terindikasi Under Invoicing hingga 50%
Pernyataan serupa diungkap Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), yang menjelaskan kepada media bahwa pemerintah kemungkinan menaikkan pajak ekspor sawit untuk membantu pembiayaan mandat biodiesel nasional yang tengah diperluas. Hal ini dipicu oleh ketatnya kondisi keuangan di industri biodiesel Tanah Air.
Menguatnya harga minyak mentah global dan minyak nabati lain turut memperkuat dasar permintaan CPO. Harga kontrak soyoil di bursa Dalian naik sekitar 0,25%–0,42%, sementara soyoil di Chicago Board of Trade mencatat kenaikan 0,73%, menunjukkan momentum positif di seluruh kelas minyak nabati. (T2)
