InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Produksi minyak sawit di Sabah diperkirakan turun tajam pada Februari ini akibat hujan lebat berkepanjangan dan banjir yang melanda salah satu negara bagian penghasil utama sawit Malaysia. Kondisi ini berpotensi mengurangi kelebihan pasokan yang selama ini menekan harga minyak sawit.
Dilansir InfoSAWIT dari The Edge Malaysia, Selasa (3/3/2026), produksi Februari di Sabah diproyeksikan merosot sekitar 15% hingga 17% dibandingkan bulan sebelumnya. Hal tersebut disampaikan Ketua Cabang Sabah Malaysian Palm Oil Association (MPOA), Prakash Arumugam.
Menurut Prakash, hujan yang terus mengguyur selama empat pekan terakhir memicu banjir berulang di berbagai perkebunan, terutama di wilayah dataran rendah.
BACA JUGA: ESDM Terbitkan Permen ISPO untuk Bioenergi Sawit, Perkuat Tata Kelola dan Daya Saing Global
“Situasinya seperti yo-yo. Hujan beberapa hari lalu banjir, air surut, lalu hujan lagi dan banjir kembali,” ujarnya dalam wawancara. Ia menambahkan, genangan air telah merendam tanaman muda, merusak jalan perkebunan, serta mengganggu kegiatan panen dan distribusi tandan buah segar.
Produksi Nasional Turut Tertekan
Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia. Dua negara bagian di Pulau Kalimantan (Borneo), yakni Sabah dan Sarawak, masing-masing menyumbang sekitar 22% dari total produksi nasional.
Berdasarkan laporan kantor berita Bernama, lebih dari 5.800 orang telah dievakuasi akibat banjir di Sabah hingga Jumat siang waktu setempat.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode IV-Februari 2026 Tertinggi Rp 3.325,89 per Kg
Bahkan sebelum banjir terjadi, produksi Malaysia diperkirakan sudah menurun bulan ini akibat faktor musiman dan berkurangnya hari kerja karena libur. Asosiasi sawit Malaysia sebelumnya memperkirakan produksi nasional turun 12% dalam 20 hari pertama Februari dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan tersebut dipimpin oleh kontraksi dua digit di Sabah dan Sarawak. Jika realisasi penurunan lebih dalam dari perkiraan, kondisi ini berpotensi memangkas stok minyak sawit Malaysia yang membengkak dan memberi dukungan terhadap harga kontrak berjangka sawit di Kuala Lumpur.
Sepanjang Februari, harga minyak sawit acuan tercatat menuju pelemahan hampir 5%, yang menjadi penurunan bulanan terbesar sejak April tahun lalu. Tekanan harga dipengaruhi penguatan ringgit serta pasokan yang melimpah.
BACA JUGA: Beasiswa SDM Sawit 2026 Segera Dibuka, Prioritaskan Anak Pekebun hingga ASN Sektor Sawit
Curah Hujan di Atas Normal
Data dari US Climate Prediction Center menunjukkan sebagian besar wilayah Sabah menerima curah hujan hingga 150 milimeter di atas normal dalam dua pekan terakhir. Sementara itu, banyak area di Sarawak mencatat curah hujan sekitar 100 milimeter di atas rata-rata.
Salah satu faktor pemicu adalah posisi Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang gangguan cuaca yang dapat meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah dan menekan hujan di wilayah lainnya.
Menurut Prakash, sejumlah perkebunan di Sabah masih terendam air sehingga pekerja tidak dapat melakukan panen. Tandan buah dari tanaman muda bahkan disebut “terendam sepenuhnya”, sementara panen pada pohon yang lebih tinggi baru bisa dilakukan setelah air benar-benar surut.
BACA JUGA: Stok CPO Aman Kala Ramadan 1447 H, Kementan Pastikan Pasokan Minyak Goreng Tetap Terjaga
Ke depan, curah hujan diperkirakan mulai mereda dalam dua pekan mendatang. Prakiraan dari lembaga cuaca AS menunjukkan meskipun sebagian wilayah masih berpotensi mengalami hujan di atas normal pada awal pekan depan, kondisi akan cenderung lebih kering hingga periode 10 Maret mendatang. (T2)
