InfoSAWIT, JAKARTA – Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Hendratmojo Bagus Hudoro menegaskan pentingnya membangun narasi positif dan konstruktif terhadap industri kelapa sawit nasional. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Diskusi Kampanye Sawit Baik Bersama Media yang dihadiri InfoSAWIT, Senin (2/3/2026).
Menurut Hendratmojo, dinamika negatif terhadap sawit harus disikapi secara strategis dan tidak emosional. Ia menilai kritik dan tekanan global justru menjadi indikator bahwa komoditas ini memiliki nilai strategis tinggi di pasar dunia.
“Kalau ada yang menyerang atau menyudutkan, itu artinya sawit kita diperhitungkan. Kita jangan terpancing untuk saling menjatuhkan, tetapi justru merapatkan barisan dan memperkuat fondasi,” ujarnya.
BACA JUGA: Banjir dan Hujan Lebat Tekan Produksi Sawit Sabah hingga 17%, Stok Malaysia Berpotensi Menyusut
Bangun Aura Positif dan Perkuat Fondasi
Hendratmojo mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk media, untuk lebih dominan menyuarakan upaya perbaikan dan keberlanjutan yang telah dilakukan sektor sawit. Ia menekankan bahwa tudingan negatif seperti perusakan lingkungan dan ketidakpedulian terhadap ekosistem harus dijawab dengan data, perbaikan tata kelola, serta implementasi praktik berkelanjutan.
“Kita sedang membangun pondasi besar. Kalau pondasinya kuat, maka industri ini tidak akan mudah digoyang,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa komoditas sawit bukan satu-satunya yang menghadapi tantangan global. Komoditas lain seperti kopi, kakao, lada, hingga pala juga berpotensi menghadapi tekanan serupa jika Indonesia tidak memperkuat posisi dan sistemnya sejak awal.
BACA JUGA: ESDM Terbitkan Permen ISPO untuk Bioenergi Sawit, Perkuat Tata Kelola dan Daya Saing Global
Amanat Presiden Angkat Tujuh Komoditas Strategis
Dalam kesempatan itu, Hendratmojo mengungkapkan bahwa Presiden telah memberikan amanat untuk mendorong penguatan tujuh komoditas strategis nasional, termasuk kelapa sawit, dengan pendekatan berbasis indikator dan tata kelola yang lebih terukur.
Sawit, lanjutnya, memiliki kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, baik dari sisi ekspor, penyerapan tenaga kerja, maupun penguatan ekonomi daerah. Dengan pengembangan yang tepat dan berbasis prinsip keberlanjutan, Indonesia diyakini dapat memperkuat posisinya sebagai negara agraris berdaya saing global.
“Kalau kita dorong pertumbuhan dengan konsep pengembangan yang benar, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara adidaya di bidang agraris. Kita ini gemah ripah loh jinawi, potensi kita luar biasa,” katanya optimistis.
BACA JUGA: Stok CPO Aman Kala Ramadan 1447 H, Kementan Pastikan Pasokan Minyak Goreng Tetap Terjaga
Perkuat Regulasi dan Diplomasi
Hendratmojo menekankan bahwa penguatan regulasi menjadi kunci agar industri sawit semakin kredibel di mata internasional. Pemerintah, kata dia, terus memperbaiki kerangka hukum dan mendorong prinsip usaha berkelanjutan agar selaras dengan standar global tanpa mengorbankan kepentingan nasional.
Selain itu, diplomasi juga terus diperjuangkan ketika muncul intervensi atau kebijakan luar negeri yang dinilai merugikan komoditas sawit Indonesia.
