InfoSAWIT, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan menegaskan kondisi hulu industri kelapa sawit nasional berada dalam situasi prima untuk menjamin ketersediaan minyak goreng menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Berdasarkan hasil monitoring lapangan serta sinkronisasi data spasial perkebunan, produksi Crude Palm Oil (CPO) nasional pada 2026 menunjukkan tren positif. Peningkatan tersebut berlangsung di tengah kebijakan pemerintah menjaga keseimbangan alokasi CPO bagi kebutuhan pangan domestik sekaligus mendukung Program Mandatori Biodiesel B40/B50.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan stabilitas pasokan pangan, khususnya minyak goreng, menjadi prioritas utama pemerintah.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode II-Februari 2026 Naik Rp 45,47 per Kg
“Kami memastikan produksi CPO nasional dalam kondisi aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk menghadapi lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan. Di saat yang sama, komitmen terhadap program biodiesel tetap berjalan secara terukur dan terkendali,” ujar Amran dalam keterangan resmi diperoleh InfoSAWIT, Senin (2/3/2026).
Data rekapitulasi stok komoditas perkebunan per 31 Januari 2026 menunjukkan cadangan nasional berada dalam kondisi terkendali. Pemantauan rutin dilakukan pada level hulu, mencakup kapasitas tangki timbun hingga distribusi bahan baku sebagai instrumen penting menjaga stabilitas pasokan.
Menurut Amran, penguatan sektor hulu menjadi fondasi utama menjaga keseimbangan antara kebutuhan pangan dan energi. Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) terus dipacu untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat dan memperkuat kontribusi petani sawit dalam rantai pasok nasional.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode IV-Februari 2026 Tertinggi Rp 3.325,89 per Kg
“Kunci stabilitas ada pada produktivitas. Melalui PSR dan pendampingan teknis, kita dorong peningkatan hasil panen per hektare agar mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan industri dan konsumsi domestik,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menjelaskan sistem pemantauan berbasis digital kini dioptimalkan untuk melacak distribusi Tandan Buah Segar (TBS) dari kebun ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
“Kami memastikan setiap PKS memperoleh persetujuan ekspor. Transparansi stok dan arus distribusi terus kami pantau, terutama di sentra produksi seperti Riau, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara,” jelas Roni.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Maret 2026 Menguat ke US$ 938,87/MT, Bea Keluar Dipatok US$ 124 per MT
Ia menambahkan, pengaturan ritme pasokan dilakukan secara cermat agar peningkatan kebutuhan biodiesel tidak mengurangi kuota bahan baku minyak goreng, baik curah maupun kemasan seperti Minyakita.
Memasuki kuartal pertama 2026, Kementan memastikan stok dan produksi di tingkat hulu mampu mengantisipasi lonjakan permintaan yang secara historis meningkat sekitar 10–15 persen saat Ramadan dan Idulfitri.
“Koordinasi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Perdagangan dan Satgas Pangan, terus diperkuat guna mencegah potensi hambatan distribusi dari pabrik hingga ke tahap pengemasan,” pungkasnya.
BACA JUGA: Distribusi Biodiesel B40 2025 Capai 95,67% dari Target, Aprobi Klaim Hemat Devisa Rp133,3 Triliun
Dengan sinergi kebijakan, penguatan produktivitas petani sawit, serta sistem data yang semakin terintegrasi, pemerintah optimistis stabilitas pasokan dan harga minyak goreng nasional tetap terjaga, sembari mendukung agenda transisi energi melalui program biodiesel secara berimbang dan berkelanjutan. (T2)
