InfoAWIT, KARACHI – Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Sawit atau Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) menuntaskan misi kerjanya di Karachi dengan membawa satu pesan kuat: Asia kini berada di pusat kendali permintaan minyak sawit global. Kunjungan ini sekaligus menegaskan komitmen CPOPC untuk memperkuat kerja sama dengan Pakistan, salah satu pasar minyak sawit paling strategis di kawasan.
Misi tersebut menyoroti peran Asia yang semakin menentukan dalam membentuk stabilitas pasar, ketahanan rantai pasok, hingga isu ketahanan pangan, di tengah dinamika global minyak nabati yang terus berubah. Bagi CPOPC, hubungan antara negara produsen dan konsumen bukan lagi sekadar transaksi dagang, melainkan fondasi penting bagi keberlanjutan pasar minyak sawit dunia.
Selama berada di Karachi, delegasi CPOPC berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintahan, pelaku industri, hingga kalangan diplomatik. Pertemuan tersebut menjadi ruang pertukaran pandangan mengenai arah pasar, ketahanan rantai pasok, serta tantangan global yang ikut memengaruhi perdagangan minyak nabati.
Diskusi juga menempatkan Pakistan dalam posisi yang semakin penting. Negara ini bukan hanya salah satu pengimpor minyak sawit terbesar dunia, tetapi juga mulai memainkan peran dalam mengarahkan arus perdagangan regional, terutama saat permintaan global bergerak semakin berat ke Asia.
Sekjen CPOPC: Pakistan Bukan Sekadar Importir
Perhatian utama misi ini terjadi saat Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh, tampil sebagai pembicara dalam 8th Pakistan Edible Oils Conference (PEOC) 2026. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa Pakistan kini telah berubah dari sekadar pasar pembeli menjadi mitra strategis yang ikut membentuk masa depan minyak sawit di Asia.
“Pakistan bukan sekadar pasar importir dengan sekitar 4,3% konsumsi minyak sawit global, tetapi kini menjadi mitra strategis yang ikut membentuk stabilitas harga, ketahanan pangan, dan masa depan minyak sawit di Asia,” ujar Izzana.
BACA JUGA: AS Buka Kembali Keran Ekspor FGV, Sawit Malaysia Kembali Masuk Pasar Amerika
Ia menyebut Pakistan mengimpor sekitar 3,3 juta ton minyak sawit per tahun untuk konsumsi domestik, menempatkannya di jajaran importir terbesar dunia bersama India dan China.
Asia Menguat, Pasar Tradisional Mulai Tergeser
Izzana juga menekankan bagaimana Asia kini menjadi kekuatan kolektif utama dalam pasar minyak sawit dunia. Dengan India (18%), China (11%), dan Pakistan (9%), tiga negara tersebut menyumbang hampir 40% dari total impor global.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Asia tidak hanya menjadi konsumen terbesar, tetapi juga ikut menentukan stabilitas harga, arah perdagangan, hingga jalur keberlanjutan komoditas minyak sawit—bahkan melampaui pasar tradisional seperti Uni Eropa.
BACA JUGA: Pajak Ekspor CPO Indonesia Naik ke 12,5%, RHB Review Target Harga CPO 2026
Dalam konteks Pakistan, minyak sawit disebut memiliki posisi yang tak tergantikan dalam sistem pangan nasional. Komoditas ini dinilai berkontribusi langsung pada keterjangkauan kebutuhan rumah tangga, menopang industri pengolahan pangan skala kecil dan menengah, serta menjaga stabilitas pasokan minyak nabati di tengah volatilitas global.
CPOPC menegaskan minyak sawit memasok lebih dari 50% kebutuhan minyak nabati Pakistan dan menyumbang sekitar 70–75% konsumsi minyak nabati nasional, terutama untuk ghee dan minyak goreng. “Minyak sawit memasok lebih dari separuh kebutuhan minyak nabati Pakistan dan tetap menjadi pilihan paling terjangkau bagi rumah tangga maupun produsen makanan. Setiap gangguan pasokan akan langsung berdampak pada ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi,” tegas Sekjen CPOPC, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Selasa (20/1/2026).
Ia juga menyoroti peran pelaku usaha kecil dan menengah (SMEs) di Pakistan yang menyumbang hampir 40% PDB dan 25% ekspor, sehingga stabilitas pasokan minyak sawit sangat berpengaruh terhadap ekonomi domestik.
