Dari sisi persaingan pasar, TA Research memperkirakan bea ekspor CPO Malaysia yang lebih rendah memberikan keuntungan biaya sekitar US$103,2 per ton dibandingkan levy ekspor Indonesia sebesar 12,5%.
Selisih tersebut tidak hanya menekan biaya ekspor efektif produsen Malaysia, tetapi juga memberi ruang fleksibilitas harga yang lebih besar di pasar internasional.
Dengan kondisi ini, eksportir Malaysia dinilai lebih berpeluang merebut pangsa pasar, terutama di wilayah sensitif harga seperti India. Sementara Indonesia menghadapi dilema antara mempertahankan kontribusi levy yang digunakan untuk membiayai subsidi biodiesel domestik, atau menjaga daya saing di pasar global. (T2)
