InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Kenaikan harga crude palm oil (CPO) yang masih bertahan tinggi diperkirakan tidak sepenuhnya menjadi kabar positif bagi industri sawit. Para analis menilai lonjakan biaya pupuk dan logistik berpotensi menekan kinerja perusahaan perkebunan pada paruh kedua 2026.
Dikutip InfoSAWIT dari The Edge Malaysia, Selasa (24/3/2026), MBSB Research menyebut tekanan biaya akan mulai terasa, terutama bagi pelaku usaha hulu, seiring meningkatnya harga urea dan biaya logistik yang terkait dengan harga diesel.
“Tekanan biaya diperkirakan muncul pada semester kedua tahun ini, terutama dari kenaikan harga pupuk dan logistik,” tulis MBSB Research.
BACA JUGA: Bos Djarum, Michael Bambang Hartono Tutup Usia, Tinggalkan Jejak Bisnis Hingga Sektor Sawit
Selain itu, pelaku industri hilir juga diperkirakan menghadapi kenaikan biaya angkutan dan premi asuransi di tengah ketidakpastian global.
Harga Tinggi CPO Tertahan Kenaikan Biaya
CIMB Securities menilai bahwa kenaikan harga CPO memang memberikan dukungan bagi sektor perkebunan, namun manfaat tersebut berpotensi tereduksi oleh kenaikan biaya input.
“Manfaat dari harga CPO yang lebih tinggi kemungkinan akan sebagian terimbangi oleh kenaikan biaya pupuk yang dipicu oleh harga energi,” tulis CIMB.
BAAC JUGA: Prabowo Bangga Sawit Jadi Energi Strategis, Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Minyak Dunia
Kenaikan harga energi sendiri dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk gangguan pada Selat Hormuz yang mendorong harga minyak global naik dan memperbaiki keekonomian biodiesel.
Sejak akhir Februari, harga CPO di Bursa Malaysia tercatat naik sekitar 9,5% menjadi RM4.428 per ton, didukung oleh penguatan harga energi dan minyak kedelai AS.
Namun demikian, analis memperingatkan bahwa jika konflik geopolitik berlanjut, dampaknya dapat meluas terhadap biaya produksi dan permintaan global.
RHB Research menegaskan bahwa biaya pupuk dapat meningkat signifikan, mengingat komponen tersebut menyumbang sekitar 20% hingga 30% dari total biaya produksi sawit, sementara biaya transportasi dan logistik berkisar 5% hingga 10%.
“Ketersediaan pupuk dapat terganggu dan biaya akan meningkat jika konflik terus berlanjut,” tulis RHB.
Selain itu, harga energi yang tinggi juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global, yang pada akhirnya dapat melemahkan permintaan minyak sawit.
