InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan tetap berada di kisaran RM4.500 per ton dalam waktu dekat, ditopang oleh membaiknya margin biodiesel, penguatan harga minyak mentah dunia, serta potensi munculnya fenomena El Niño yang dapat memengaruhi produksi sawit regional.
Prospek tersebut disampaikan Malaysian Palm Oil Council (MPOC) yang menilai kombinasi faktor energi dan cuaca masih menjadi katalis utama pergerakan harga CPO sepanjang semester kedua 2026. Namun, ruang penguatan harga dinilai tetap terbatas seiring melemahnya permintaan ekspor akibat tekanan inflasi global, perlambatan ekonomi di sejumlah pasar utama, serta potensi peningkatan stok ketika produksi memasuki puncak musiman.
Berdasarkan data MPOC, stok minyak sawit Malaysia pada Maret 2026 tercatat turun 16,1 persen menjadi 2,26 juta ton, setelah ekspor melonjak ke level 1,55 juta ton, melampaui produksi bulanan yang berada di kisaran 1,37 juta ton.
“Meningkatnya ekspor pada kuartal pertama terutama didorong percepatan pengiriman sebelum biaya logistik naik, ditambah ekspor Indonesia yang melambat setelah lonjakan pengapalan menjelang kenaikan pungutan ekspor,” ungkap MPOC dalam keterangan resmi dilansir InfoSAWIT dari NST, Minggu (26/4/2026).
Lembaga tersebut mencatat, di tengah tantangan ekonomi global, ekspor minyak sawit pada kuartal I-2026 justru meningkat 29,1 persen secara tahunan, atau setara tambahan 927 ribu ton. Kenaikan pengiriman terjadi hampir di seluruh kawasan, kecuali pasar Amerika.
Wilayah Afrika Utara mencatat pertumbuhan ekspor tertinggi sebesar 94 persen, disusul Asia Selatan yang tumbuh 74 persen, kemudian kawasan Eropa lainnya dan Asia Tengah naik 47 persen, Asia Pasifik tumbuh 24 persen, serta Afrika Sub-Sahara meningkat 20 persen. Sementara itu, pertumbuhan di kawasan Timur Tengah dan European Union relatif moderat, masing-masing hanya 8 persen dan 1 persen.
Dari sisi harga minyak nabati global, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari turut memicu volatilitas pasar. Hingga pertengahan April, harga minyak sawit dan minyak kedelai Amerika Serikat tercatat menguat 15–16 persen, jauh melampaui kenaikan minyak bunga matahari, rapeseed oil, dan minyak kedelai Argentina yang hanya naik sekitar 2–5 persen.
Menurut MPOC, minyak sawit menjadi salah satu komoditas yang paling diuntungkan dari kebijakan biodiesel yang mulai terealisasi di berbagai negara, sejalan dengan tingginya harga energi global yang membuat campuran biofuel semakin kompetitif.
Permintaan domestik di kawasan Asia Tenggara juga diperkirakan menjadi penyangga baru pasar. MPOC memperkirakan konsumsi tambahan minyak sawit di kawasan ini dapat menyerap 1 juta hingga 1,5 juta ton pada paruh kedua 2026.
BACA JUGA: Dana BPDP Dinilai Tak Seimbang, Insentif Biodiesel Jauh Melampaui Dukungan ke Petani Sawit
Di Malaysia, implementasi mandat biodiesel B15 diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 300 ribu ton CPO per tahun. Sementara itu, Indonesia berpotensi menyerap tambahan hingga 3 juta ton per tahun apabila kebijakan B50 dijalankan penuh, meski realisasi di lapangan masih bergantung pada kesiapan kapasitas industri biodiesel.
Selain faktor permintaan, MPOC juga menyoroti ancaman cuaca kering sebagai sentimen pendukung harga. Curah hujan yang lebih rendah sejak pertengahan Maret, ditambah proyeksi cuaca kering hingga Juni oleh otoritas meteorologi Malaysia, membuka kemungkinan gangguan produksi yang dapat memperketat pasokan global.
Dengan kombinasi permintaan biodiesel yang meningkat, harga energi yang tetap tinggi, serta ancaman cuaca ekstrem, pasar menilai harga CPO masih memiliki fondasi kuat untuk bertahan di level premium, meski tantangan dari sisi ekspor dan peningkatan produksi tetap menjadi faktor penyeimbang pasar. (T2)
