InfoSAWIT, JAKARTA – Program mandatori biodiesel Indonesia terus menunjukkan kinerja yang impresif. Selain menjadi instrumen strategis dalam menekan impor solar berbasis fosil dan menghemat devisa negara, implementasi biodiesel juga secara tidak langsung telah menopang penguatan harga minyak sawit mentah (CPO) domestik melalui peningkatan serapan bahan baku ke sektor energi.
Sejak dijalankan pada 2015 hingga Desember 2025, program biodiesel mencatat volume penyaluran mencapai 83,88 juta KL, dengan total dana tersalur Rp239 triliun, penghematan devisa Rp750,74 triliun, serta kontribusi pengurangan emisi gas rumah kaca mencapai 222 juta ton CO₂. Selain itu, pemerintah juga mencatat penerimaan PPN yang dibayarkan sebesar Rp21,41 triliun, menunjukkan multiplier effect program ini terhadap perekonomian nasional.
Keberhasilan implementasi mandat biodiesel—mulai dari B20, B30, B35 hingga kini diterapkannya B40 dan rencana B50—mendorong kebutuhan CPO domestik semakin besar. Kondisi ini menciptakan demand struktural baru bagi industri sawit, yang pada akhirnya ikut menjaga fundamental harga CPO, terutama saat pasar ekspor menghadapi tekanan dari kebijakan dagang global, isu sustainability, maupun fluktuasi permintaan internasional.
Dalam proses produksinya, biodiesel dihasilkan melalui teknik esterifikasi/transesterifikasi, yakni reaksi kimia antara CPO atau turunannya dengan metanol untuk menghasilkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai bahan baku utama biodiesel. Dengan semakin tinggi campuran biodiesel pada solar, maka kebutuhan FAME otomatis meningkat, demikian pula kebutuhan metanol sebagai reaktan utama.
Dilansir InfoSAWIT dari Kontan, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengungkapkan bahwa kebutuhan metanol nasional akan melonjak signifikan apabila program B50 diterapkan penuh.
“Jumlah B50 kalau non-PSO sama PSO itu disamakan mandatorinya maka perlu 2,5 sampai 2,8 juta ton metanol per tahun,” ungkap Eniya pada Kamis (13/11/2025) silam di gedung parlemen Senayan.
BACA JUGA: Pemprov Riau Evaluasi Pengelolaan DBH Sawit, Fokus pada Efisiensi dan Penyesuaian Regulasi Baru
Menurutnya, metanol dibutuhkan sebagai komponen kimia utama dalam reaksi pembentukan FAME.
“Ini kan (metanol) untuk reaksi dengan CPO menjadi FAME. Nah, tapi kalau prediksi saya tadi, kita sesuaikan karena ada peningkatan produksi solar,” tambahnya.
Paradoks Biodiesel: Hemat Devisa, Tapi Masih Bergantung Bahan Baku Impor
Di balik capaian penghematan devisa yang besar, terdapat persoalan fundamental yang mulai mendapat sorotan, yakni tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol.
BACA JUGA: Dari Komoditas ke Identitas: Fenomena “Sawitisasi” Nasionalisme Indonesia
Saat ini, kapasitas produksi metanol domestik baru sekitar 600 ribu ton per tahun, jauh di bawah kebutuhan industri yang terus meningkat. Sementara impor metanol masih dominan, terutama berasal dari kawasan Timur Tengah.
“Sekarang metanol itu saat ini produksi dalam negeri 600 ribu. Memang impornya tinggi. Kebanyakan dari Timur Tengah,” kata Eniya.
Artinya, ketika program biodiesel diperluas hingga B50, Indonesia berpotensi menghadapi paradoks energi baru, devisa hemat dari berkurangnya impor BBM, tetapi sebagian manfaat itu tergerus oleh meningkatnya impor metanol sebagai bahan penolong produksi FAME.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mendorong pembangunan pabrik metanol nasional di Bojonegoro, Jawa Timur, dengan nilai investasi sekitar US$1 miliar–US$1,2 miliar atau setara Rp19,08 triliun, yang ditargetkan rampung pada akhir 2027.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut proyek tersebut penting untuk menekan impor metanol yang saat ini masih mencapai sekitar 2 juta ton per tahun.
Integrasi Hulu-Hilir Jadi Kunci
Ke depan, keberhasilan program biodiesel tidak cukup hanya diukur dari besarnya serapan CPO, penghematan devisa, maupun penurunan emisi karbon. Lebih dari itu, kemandirian rantai pasok bahan baku pendukung seperti metanol menjadi elemen penting agar industri biodiesel nasional benar-benar memberikan nilai tambah maksimal bagi ekonomi domestik.
Dengan kata lain, biodiesel memang telah menjadi penopang harga CPO dan mesin penghemat devisa negara. Namun agar manfaatnya utuh, Indonesia perlu memastikan bahwa komponen penting dalam produksi FAME juga dapat dipenuhi dari industri dalam negeri, sehingga program transisi energi ini tidak hanya hijau, tetapi juga kuat secara fundamental dari sisi industri dan neraca perdagangan. (T2)
