InfoSAWIT, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) domestik diperkirakan masih bergerak dalam tren positif sepanjang pekan ini. Sejumlah faktor, mulai dari kuatnya kinerja ekspor Malaysia, penguatan harga minyak nabati pesaing, hingga sentimen implementasi program biodiesel B50 di Indonesia menjadi penopang utama pergerakan harga.
Kepala Bagian Bursa dan Pengembangan Bisnis PT Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), Andrial Saputra, menjelaskan bahwa pasar CPO saat ini masih menunjukkan fundamental yang relatif kuat. Menurutnya, setelah melewati periode pergantian kontrak terdekat di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (MDEX), pola harga yang terbentuk masih mencerminkan kondisi pasar yang normal.
“Pergerakan harga CPO minggu ini diproyeksikan cukup positif. Pola contango yang masih terjadi di MDEX menunjukkan situasi pasar yang relatif sehat dan stabil,” ujar Andrial kepada InfoSAWIT, Kamis (18/6/2026).
BACA JUGA: Wamenko Pangan Dorong Integrasi Sawit-Sapi, Potensi Hasilkan 1,3 Juta Ekor Sapi Nasional
Ia menuturkan, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menopang penguatan harga CPO. Pertama, kinerja ekspor Malaysia yang masih menunjukkan pertumbuhan signifikan pada periode 1–15 bulan berjalan. Data dari lembaga survei ekspor Independen, ITS dan AmSpec, masing-masing mencatat kenaikan ekspor sebesar 9,6 persen dan 23,8 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan global terhadap minyak sawit masih cukup solid, terutama dari negara-negara konsumen utama.
Faktor kedua berasal dari pemulihan harga minyak nabati pesaing di pasar internasional. Harga minyak kedelai (soybean oil) di Bursa Chicago (CBOT) dan Bursa Dalian mulai bangkit setelah sempat menyentuh titik terendah dalam beberapa bulan terakhir.
BACA JUGA: Agrinas Palma Gandeng Konsorsium Korea, Bidik Hilirisasi Biomassa Sawit dan Energi Hijau
“Rebound teknikal yang terjadi pada soybean oil memberikan sentimen positif bagi harga CPO karena korelasinya masih cukup kuat,” jelasnya.
Sementara faktor ketiga datang dari dalam negeri, yakni meningkatnya perhatian pasar terhadap rencana penerapan biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli mendatang. Meski dampaknya diperkirakan lebih bersifat jangka pendek, sentimen tersebut tetap memberikan tambahan dukungan terhadap harga CPO.
Harga Lelang KPBN Diperkirakan Sejalan dengan Bursa Malaysia
Andrial menilai tren penguatan harga yang terjadi di Bursa Malaysia akan tercermin langsung pada harga lelang CPO di KPBN. Pasalnya, harga referensi di MDEX masih menjadi salah satu acuan utama dalam pembentukan harga domestik.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 17-23 Juni 2026 Naik Rp21,39 per Kg
Dengan kondisi pasar global yang masih bullish, harga lelang KPBN diprediksi bergerak linear mengikuti kenaikan yang terjadi di pasar internasional.
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan terjadinya koreksi harga dalam jangka pendek. Peningkatan produksi musiman di Indonesia maupun Malaysia memang berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar. Namun, tekanan tersebut diperkirakan tidak akan terlalu besar karena masih ditopang oleh permintaan yang kuat dari negara-negara pengimpor utama seperti India, Tiongkok, kawasan Eropa, hingga Amerika Serikat.
“Koreksi harga tetap mungkin terjadi, tetapi sifatnya terbatas dan lebih banyak dipicu aksi profit taking menjelang akhir pekan dibandingkan perubahan fundamental pasar,” katanya.
