Strategi tersebut dinilai penting mengingat sebagian produksi minyak sawit nasional diproyeksikan akan lebih banyak diserap pasar domestik seiring implementasi program biodiesel B50.
Menurut Fadhil, Indonesia sebenarnya telah mengekspor minyak sawit ke sekitar 160 negara. Tantangan ke depan bukan lagi memperluas jumlah negara tujuan ekspor, melainkan menentukan pasar prioritas yang memiliki potensi pertumbuhan terbesar.
“Minyak sawit kini tidak lagi dipandang sebagai discounted oil, tetapi telah menjadi premium oil karena nilai ekonominya terus meningkat, salah satunya didorong tingginya konsumsi domestik. Ke depan, daya saing industri tidak boleh hanya bergantung pada kenaikan harga akibat faktor geopolitik, tetapi harus dibangun melalui peningkatan produktivitas, riset dan pengembangan, serta hilirisasi,” ujar Fadhil.
BACA JUGA: SPKS: Sertifikasi Sawit Tingkatkan Produktivitas Petani, BPDP Didorong Perkuat Dukungan Pendanaan
Melalui lokakarya tersebut, para peserta diharapkan memiliki kemampuan diplomasi yang lebih kuat dalam memperjuangkan kepentingan industri sawit Indonesia di pasar internasional. Selain memperluas akses ekspor, penguatan kapasitas negosiator juga dinilai menjadi bagian penting dalam membangun citra positif minyak sawit berkelanjutan Indonesia di tengah meningkatnya tuntutan perdagangan global. (T2)
