Kecewa Harga TBS Sawit Anjlok, Petani Tebang Sawit

oleh -1.737 Kali Dibaca
Info sawit
Dok. Istimewa

InfoSAWIT, LAMPUNG – Kebijakan pemerintah pusat terkait ketersediaan dan harga minyak goreng, baik curah maupun kemasan, selalu berubah-ubah. Situasi ini berimbas buruk pada harga pembelian tandan buah segar (TBS) produksi petani sawit swadaya.

Secara perlahan-lahan harga TBS petani sawit swadaya secara nasional terus mengalami penurunan, dari berkisar Rp 3.000-an menjadi minimal Rp 1.200 per kilogram. 

Hal ini membuat petani sawit swadaya kecewa. Di Provinsi Lampung, situasi ini disikapi dengan cara yang simpel oleh petani sawit swadaya. tanpa berfikir panjang, mereka menebang tanaman sawit dan mengganti dengan tanama lain. 

“Saya saja melakukan hal itu. Setengah dari perkebunan sawit saya saya tebang, saya ganti dengan tanaman tebu, pisang dan jagung,” kata Abdullah Simanjuntak kepada InfoSAWIT, Kamis (9/6/2022) siang.

BACA JUGA : Tumpangsari Jagung Selamatkan Periuk Petani Peserta Program Peremajaan Sawit Rakyat

Pria berusia 71 tahun ini adalah petani sawit swadaya sekaligus Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Lampung. 

Dirinya tidak takut untuk menebang pohon sawitnya dan diganti dengan tanaman lain karena sudah ada calon pembeli dari setiap tanaman nonsawit yang ditanam. 

Ia mencontohkan jagung. Banyak petani sawit menanam jagung di lahan bekas kebun sawit mereka dan sudah panen sebanyak tiga kali dalam setahun. 

“Harga jagung sekarang di tingkat penampung sebesar Rp 6.000/kg. Satu hektar jagung sudah bisa menghasilkan minimal Rp 50 juta setahun,” kata dia.

Ia juga sama seperti petani sawit lainnya yang turut menanam tebu dan pisang yang juga gamoang dipanen dan usia tanam juga singkat. Untuk tanaman pisang, ia dan parra petani sawit lainnya juga sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan asal Korea Selatan selaku pembeli.

Untuk tanaman tebu, mereka sudah bekerjasama dengan sejumlah perusahaan swasta, termasuk PT Gunung Madu Lampung. Begitu juga tanaman lainnya seperti ubi yang juga sudah ada perusahaan penampungnya.

Abdullah Simanjuntak menegaskan, karakteristik pertanian dan perkebunan di Lampung berbeda bila dibandingkan dengan di Provinsi Riau atau Jambi. 

Kata dia, petani sawit di dua provinsi itu sudah “tak bisa ke mana-mana lagi” selain ke sawit. Sementara petani sawit di Lampung justru berbeda, harga TBS turun bisa membuat petani sawit swadaya mengubah sebagian kebun sawit mereka jadi kebun lain.

“Di Lampung banyak perusahaan yang menampung hasil pertanian nonsawit. Bicara gula, di sini ada banyak pabrik gula, ubi dan singkong juga banyak. Jadi, kami enggak berlama-lama ambil keputusan kalau mengatasi harga TBS yang jatuh seperti saat ini,” kata Abdullah Simanjuntak. (T5)


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com