InfoSAWIT, JAKARTA – Saat ini pertumbuhan penduduk di dunia terus meningkat sementara penyediaan lahan untuk produksi pangan dunia semakin terbatas. Diungkapkan Ketua Umum Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (Gapensiska),Joko Iriantono, Indonesia dengan lahan perkebunan kelapa sawitnya seluas 16,38 juta ha dan terbesar di dunia, memiliki potensi untuk pola produksi pangan dengan mengintegrasikan perkebunan kelapa sawit dengan ternak sapi.
“Menjadi langkah yang sangat bijaksana untuk ketahanan pangan nasional kita khususnya kecukupan daging sapi dalam negeri,” katanya kepada InfoSAWIT, Rabu (29/3/2023).
Lebih lanjut diutarakan Joko, program SISKA atau Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit adalah langkah yang sangat nyata untuk menambah populasi sapi dan produksi daging sapi pada sistem Perkebunan Kelapa Sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
BACA JUGA: Integrasi Sawit Sapi Bukan Hama, Ini Penjelasannya
Sementara, dalam analisa Direktorat Jenderal Perkebunan, setidaknya terdapat empat alasan perkebunan kelapa sawit bisa dijadikan sebagai lokasi pengembangan ternak sapi, pertama, tersedianya lahan yang luas untuk pengembangan sapi, apalagi sampai saat ini tutupan perkebunan kelapa sawit telah mencapai 16,38 Juta Ha, sehingga berpeluang untuk diintegrasikan dengan sapi-kelapa sawit.
Kedua, tersedianya Biomassa pakan sepanjang tahun, lantaran perkebunan kelapa sawit mampu menghasilkan bioamassa yang bisa dijadikan sumber pakan ternak, misalnya pelepah dan daun sawit, hijauan dibawah naungan sawit, bungkil sawit, serta solid.
BACA JUGA: Enam Keuntungan Saat Menerapkan Integrasi Sapi-Kelapa Sawit
Ketiga, tersedianya potensi Sumberdaya Manusia (SDM) yakni petani sawit untuk mengelola usaha pembiakan/ penggemukan sapi, serta keempat, dengan penerapan integrasi sapi-kelapa sawit maka bisa mengurangi biaya pupuk dan herbisida di perkebunan sekitar 30%. (T2)
