Oleh karena itu, untuk mengantisipasi El Nino yang akan datang, kami memperkirakan akan terjadi kebakaran lahan dan kabut asap yang lebih tinggi. Secara historis, kebakaran hutan pada musim kemarau biasanya disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor, antara lain tebas bakar untuk pertanian subsisten, pembukaan lahan untuk pertanian dan kebakaran yang tidak disengaja terkait dengan kebiasaan sehari-hari masyarakat, seperti kompor yang tidak terawat dan membuang sembarangan. puntung rokok yang menyala.
Krisis ini juga menuntut tindakan global dalam peningkatan pencegahan kebakaran hutan.
Indonesia sebagai ketua ASEAN tahun ini dapat mempromosikan ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution 2002 secara global. Pada tahun 2015 Indonesia meratifikasi perjanjian ini, yang mencakup program pencegahan bersama, kesiapsiagaan, tanggap darurat nasional dan bersama, prosedur penyebaran, bantuan teknis dan kolaborasi penelitian ilmiah. Jenis kerjasama ini dapat ditingkatkan di antara negara-negara Global South, untuk membentuk kerjasama yang lebih kuat untuk mencegah kebakaran dan kabut asap yang ditimpakan kepada kita.
Kesimpulannya, seperti UNFCCC yang mengakui kemampuan yang berbeda dan tanggung jawab yang berbeda dari masing-masing negara dalam mengatasi perubahan iklim, kebakaran hutan di Kanada mengingatkan kita semua tentang perlunya aksi iklim bersama.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 14-20 Juni 2023 Turun Tipis Rp 6,03/Kg, Cek Harganya..
Kebakaran hutan dan kabut asap di Indonesia telah terlalu dipolitisasi dan dimanipulasi untuk menjelekkan komoditas tertentu atau menuding pihak tertentu untuk melayani kepentingan pribadi.
Demi mitigasi krisis iklim, kita perlu berhenti mengkambinghitamkan dan mempolitisasi bencana iklim apapun.
Akan jauh lebih baik bagi kita untuk mengembangkan pemahaman bersama tentang kebakaran hutan dan bekerja sama secara konstruktif untuk mencegah terulangnya insiden bencana tersebut. (*)
Penulis: Edi Suhardi dan Agam Fatchurrochman / Sustainability Analyst
