InfoSAWIT, JAKARTA – Hingga saat ini Indonesia memiliki populasi penduduk sekitar 275 juta jiwa atau menduduki posisi nomor 4 sebagai negara dengan populasi penduduk terbanyak di dunia. Dengan populasi sebesar itu setiap tahunnya Indonesia mengimpor daging sapi dan sapi bakalan sekitar setara 1,25 juta ekor.
Permasalahan impor daging sapi itu kerap muncul setiap tahunnya, sebab itu diungkapkan Ketu Umum, Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi-Sawit (GAPENSISKA), Joko Iriantono, dengan luasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang mencapai seluas 16,34 juta hektar, berpotensi untuk di integrasikan dengan peternakan sapi.
Kata Joko, apabila dari total luas 25 % untuk integrasi Sawit Sapi maka masalah impor daging sapi dan sapi bakalan akan terselesaikan. “Dalam kondisi krisis ekonomi global tahun 2022 Indonesia mendapatkan devisa export produk perkebunan kelapa sawit sekitar Rp 600 triliun,” katanya dikutip InfoSAWIT dari Whatsapp Group Gapensiska, Kamis (20/7/2023).
BACA JUGA: Enam Keuntungan Saat Menerapkan Integrasi Sapi-Kelapa Sawit
Maka dengan Integrasi Perkebunan Kelapa Sawit dan peternakan sapi potong akan menekan kegiatan impor daging sapi dan sapi bakalan. “Artinya akan ada penghematan biaya impor sapi, disamping kebutuhan daging bisa terpenuhi,” katanya. (T2)
