Keterlacakan dari mata rantai pasokan minyak sawit atau traceability merupakan salah satu bukti nyata akan produksi minyak sawit berkelanjutan. Sekaligus praktik budidaya terbaik dan berkelanjutan yang sudah diterapkan sejak lama, juga mampu meningkatkan produktivitas hasil panen perkebunan kelapa sawit.
Peluang besar yang dimiliki Indonesia ini, seharusnya mampu menjadi jawaban akan adanya tantangan dari pasar ekspor luar negeri. Selain itu, penerapan teknologi digitalisasi yang sudah dilakukan dalam traceability juga menjadi bagian dari sistem produksi CPO dewasa ini.
Selain itu, upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang secara profesional menyambut semua karyawan dengan latar belakang perbedaan seperti jender, agama, etnis dan budaya secara tanpa adanya diskriminasi juga telah banyak dilakukan pebisnis sawit.
Sawit sejak lama telah dikembangkan melalui kebersamaan dengan warna warni perbedaan. Dikenal dengan sebutan Inklusivitas, budaya tanpa diskriminasi sejak lama telah berkembang di industri sawit dari perkebunan kelapa sawit hingga industri turunannya.
Bukti sahih yang dapat di telisik, berasal dari keberadaan perkebunan kelapa sawit yang berada di berbagai pelosok, telah memiliki banyak karyawan yang berasal dari berbagai latar belakang perbedaan.
Inklusivitas telah sejak lama dikembangkan di perkebunan kelapa sawit. Di beberapa daerah, kita dapat jumpai beberapa kampung sekitar perkebunan yang dibentuk atas kesamaan suku, ada kampung Bali, kampung Jawa, kampung Batak dan sebagainya.
BACA JUGA: Minyak Sawit Melawan Kampanye Hitam
Kampung-kampung sekitar perkebunan kelapa sawit berdiri secara komunal masyarakat dan masih mewarisi berbagai tradisi budaya dari suku asalnya. Hingga, tradisi dan kepercayaan berdasarkan suku tersebut, dapat terus lestari dan berkembang hingga dewasa ini. Biasanya, mereka terlibat sebagai petani swadaya yang kemudian bermitra dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang memiliki pengolahan Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
