InfoSAWIT, KARACHI – Pakistan, sebagai konsumen besar minyak nabati, menghadapi tantangan serius dalam memenuhi kebutuhan domestiknya. Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Rasheed Janmohammed, CEO Westbury Grup, pada Pakistan Edible Oil Conference (PEOC).
Menurutnya, setiap tahun Pakistan membutuhkan sekitar 4,5 juta ton minyak nabati, namun produksi dalam negeri hanya mencapai 0,75 juta ton. Sebagai gantinya, sekitar 3 juta ton, atau sekitar 90%, harus diimpor, terutama dari Indonesia dalam bentuk kelapa sawit.
Sementara Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono memberikan gambaran lebih lanjut, misalnya pada tahun 2022 lalu, total ekspor kelapa sawit dan produk turunannya dari Indonesia ke Pakistan mencapai 2,78 juta ton, setara dengan 3,1 miliar dolar Amerika.
BACA JUGA: Bea Keluar dan PE CPO Ditetapkan US$ 93 Per ton Untuk Periode 16-31 Januari 2024
Angka tersebut menggambarkan ketergantungan Pakistan pada impor kelapa sawit. Meskipun terjadi penurunan hingga 2,24 juta ton atau setara dengan 2,1 miliar dolar Amerika pada Oktober 2023, Pakistan tetap menjadi pasar potensial yang menarik.
Eddy menyatakan optimisme terhadap pertumbuhan pasar Pakistan dan menekankan pentingnya pengembangan kerja sama perdagangan. “Pakistan adalah pasar yang potensial, dan saya yakin akan terus berkembang. Untuk itu, perlu diperhatikan dan dikembangkan dalam berbagai perjanjian perdagangan yang saling memberikan manfaat bagi kedua negara,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Selasa (16/1/2024).
BACA JUGA: MPOC Optimis Harga Minyak Sawit di 2024 Diprediksi Rata-Rata RM 4000 per Metrik Ton
Sementara Pakistan menghadapi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati secara mandiri, kesepakatan dagang dengan Indonesia menjadi kunci strategis. Peningkatan volume ekspor kelapa sawit ke Pakistan menciptakan peluang bagi kedua negara untuk saling menguntungkan. Namun, dalam menghadapi tantangan ini, beberapa aspek perlu dipertimbangkan. (T2)
