InfoSAWIT, JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang dimulai sejak awal tahun 2020 berdampak signifikan pada industri kelapa sawit Indonesia, khususnya terkait produksi Crude Palm Oil (CPO). Data menunjukkan bahwa tahun 2020 mengalami penurunan produksi CPO sebesar 6,83 persen dibanding tahun sebelumnya, mencapai 8,86 juta ton. Namun, pada tahun 2021, terjadi peningkatan dengan produksi mencapai 8,96 juta ton.
Sayangnya, tahun 2022 kembali menyaksikan penurunan produksi CPO sebesar 2,49 persen, menjadi 8,74 juta ton. Penurunan ini disebabkan oleh rendemen kelapa sawit di Provinsi Riau yang turun akibat perubahan cuaca yang dipicu oleh badai El Nino di Indonesia.
Provinsi Riau tetap menjadi kontributor terbesar produksi CPO pada tahun 2022 dengan 8,74 juta ton atau sekitar 18,67 persen dari total produksi Indonesia. Sementara itu, Provinsi Kalimantan Tengah menghasilkan 8,36 juta ton atau 17,86 persen dari total produksi.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 24-30 Januari 2024 Naik Rp 78,98/Kg, Cek Harganya..
“Berdasarkan status pengusahaannya, pada tahun 2021, Provinsi Riau melaporkan bahwa 53,76 persen dari produksi CPO atau 4,82 juta ton berasal dari perkebunan rakyat, 41,85 persen atau 3,75 juta ton dari perkebunan besar swasta, dan sisanya 4,39 persen atau 0,39 juta ton dari perkebunan besar negara,” dikutip InfoSAWIT dari Buku Statisik Kelapa Sawit Provinsi Roau 2022, yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Riau.
Meskipun total produksi pada tahun 2022 mengalami penurunan, struktur produksi menurut status pengusahaan tidak berubah signifikan. Produksi perkebunan rakyat tetap mendominasi dengan perkiraan 4,82 juta ton CPO (55,13 persen), diikuti oleh perkebunan besar swasta dengan total produksi 3,53 juta ton (40,33 persen), dan sisanya 0,39 juta ton (4,50 persen) diproduksi oleh perkebunan besar negara.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Naik 0,4 Persen, Dumai Withdraw Pada Selasa (23/1)
Dengan adanya fluktuasi produksi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi cuaca eksternal, industri kelapa sawit terus menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas pasokan dan merespons dinamika pasar global. Monitoring terus menerus terhadap sektor ini menjadi kunci untuk pengelolaan yang berkelanjutan dan adaptasi terhadap perubahan eksternal yang tidak terduga. (T2)
