InfoSAWIT, JAKARTA – Ahmad Juang Setiawan, seorang peneliti iklim dari Traction Energy Asia, menyuarakan keprihatinannya atas dampak perubahan iklim terhadap produksi kelapa sawit, bahan baku utama minyak goreng. Menurutnya, krisis iklim seperti banjir, kekeringan, dan asap dari kebakaran hutan dan lahan (KARHUTLA) telah merusak produktivitas kelapa sawit, mengakibatkan pergeseran musim panen, penurunan kualitas, kerusakan tanaman, bahkan potensi kematian tanaman.
Selain itu, penggunaan kelapa sawit untuk biodiesel juga menjadi faktor yang mengganggu ketersediaan minyak goreng. Semakin tinggi tingkat pencampuran biodiesel, semakin berkurang ketersediaan minyak goreng. Kombinasi krisis iklim dan peningkatan penggunaan kelapa sawit untuk biodiesel mengancam stok minyak goreng secara keseluruhan.
Ahmad Juang mengungkapkan, bahwa dalam empat tahun terakhir, konsumsi minyak goreng meningkat secara signifikan menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri, rata-rata sebesar 38%. Namun, ada tren peningkatan kebutuhan energi yang lambat namun stabil. Pada bulan Agustus 2023, alokasi Crude Palm Oil (CPO) untuk energi telah melampaui alokasi untuk pangan, melebihi 1 juta ton, sementara alokasi untuk pangan kurang dari 1 juta ton. Hal ini sejalan dengan regulasi pemerintah untuk meningkatkan produksi biosolar melalui program pencampuran Bahan Bakar Nabati (B35).
Menurut Ahmad Juang, ada peluang besar dalam memanfaatkan minyak jelantah (Used Cooking Oils) sebagai bahan baku tambahan untuk biodiesel. “Pengumpulan dan pengelolaan minyak jelantah sebagai biodiesel tidak hanya dapat mengurangi masalah kesehatan dan lingkungan akibat pembuangan yang sembarangan, tetapi juga mengatasi masalah ketersediaan minyak goreng,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, ditulis Jumat (8/3/2024).
Selain itu Ia juga menekankan pentingnya melihat kearifan lokal dalam pertanian sebagai langkah menuju pangan yang berkelanjutan. Dia memberikan contoh dari masyarakat adat di Kasepuhan, Banten Selatan, yang telah mengembangkan berbagai varietas padi yang sesuai dengan berbagai musim. Mereka juga memiliki sistem prediksi awal musim tanam yang cukup akurat, bahkan dapat menyaingi model prediksi kontemporer berbasis ENSO (El Niño Southern Oscillation) pada daerah mereka sendiri.
BACA JUGA: Kementan Sebut Potensi Tumpang Sari Sawit-Padi Gogo di Areal Seluas 200 Ribu ha
Juang menegaskan pentingnya memberikan masukan dari pengetahuan lokal kepada pemerintah dalam merumuskan kebijakan pertanian. Dia juga menekankan bahwa diversifikasi sistem pertanian adalah kunci, karena setiap daerah memiliki keunikan dan kebutuhan yang berbeda-beda yang harus dipertimbangkan dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan. (T2)
