Pasalnya, keberadaan bisnis CPO dan produk turunannya masih berorientasi pasar ekspor ke luar negeri. Dimana, harga jual CPO dan produk turunannya akan menghasilkan pendapatan Dolar Amerika Serikat. Adanya stagnasi harga jual yang berkepanjangan juga mendapat tekanan, dari nilai tukar Dolar AS yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Alhasil, bisnis CPO dan produk turunannya menghadapi kondisi yang kian berat memasuki Tahun 2024 ini.
Kondisi Tahun 2024, bisnis CPO menghadapi gejolak iklim yang masih tidak menentu. Selain itu, kondisi politik yang masih kurang stabil dengan berbagai gejolak yang terjadi di beberapa negara lainnya, menjadi gambaran luas akan besarnya tantangan bisnis di Tahun 2024 ini.
Sebab itu, pertumbuhan produksi CPO harus terus mendorong tumbuhnya industri hilir di dalam negeri. Melalui pertumbuhan aneka produk hilirisasi dengan keuntungan utama mengonsumsi produk ramah lingkungan dan terbarukan yang berasal dari minyak sawit.
BACA JUGA: Masyarakat Batin Mudo Genduang Gugat Anak Usaha Astra Agro, Terkait Lahan Sawit
Selain itu, pertumbuhan industri hilir juga harus merangkul petani kelapa sawit, supaya mendapat keuntungan bersama dari tumbuhnya industri hilir di Indonesia. Sebab, petani kelapa sawit memiliki peranan besar, bagi tumbuhnya bisnis minyak sawit berkelanjutan di masa depan. Semoga. (*)
