Indonesia Butuh 20 Juta Kiloliter CPO untuk Implementasi Biodiesel B50

oleh -7.257 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
infosawit
Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi biodiesel sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan bahwa Indonesia memerlukan sekitar 20 juta kiloliter (KL) minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) per tahun untuk mendukung program biodiesel B50 yang diwajibkan oleh pemerintah. Program ini menjadi salah satu prioritas dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Tim Kerja Pemasaran Internasional Ditjen Perkebunan Kementan, Muhammad Fauzan Ridha.

Saat ini, Indonesia tengah menerapkan program biodiesel B35, dan direncanakan akan naik menjadi B40 pada awal Januari 2025. Untuk tahap selanjutnya, program B50 diharapkan akan mendorong penggunaan minyak kelapa sawit yang lebih besar.

Menurut Fauzan, kebutuhan CPO untuk implementasi biodiesel B35 saat ini mencapai 13,4 juta kiloliter per tahun, sedangkan B40 diperkirakan akan membutuhkan sekitar 16,08 juta kiloliter per tahun. “Untuk B50, diperlukan tambahan sekitar 4-5 juta kiloliter, sehingga total kebutuhan produksi CPO untuk program ini diproyeksikan mencapai 20 juta kiloliter,” ujar Fauzan dikutip InfoSAWIT dari Kumparan, Jumat (25/10/2024).

BACA JUGA: Delima Hasri Azhari: Komit Kembangkan Komoditas Strategis Nasional

Meski demikian, Fauzan mencatat bahwa kapasitas terpasang industri biodiesel di Indonesia saat ini baru mencapai 17-18 juta kiloliter. Untuk mencapai target B50, dibutuhkan peningkatan kapasitas terpasang hingga 25 juta kiloliter. “Pemenuhannya membutuhkan idle capacity sekitar 80 persen dari pabrik yang ada,” tambahnya.

Fauzan juga menyebutkan bahwa pemerintah sedang mengkaji potensi pengalihan ekspor CPO ke pasar domestik, terutama terkait dengan penurunan ekspor ke Uni Eropa akibat regulasi deforestasi yang diterapkan oleh Uni Eropa (European Union Deforestation Regulation/EUDR). Namun, dia menegaskan bahwa hal ini bukan langkah yang mudah, mengingat sebagian besar ekspor CPO ke Eropa adalah produk turunan, bukan CPO mentah.

Kajian lebih lanjut mengenai implementasi B50, menurut Fauzan, masih terus berjalan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Fokus utama kajian ini adalah pada aspek pasokan dan permintaan, serta evaluasi ekonomi, kelembagaan, dan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung program ini. “Proses kajian ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun depan,” ujarnya.

BACA JUGA: PN Jakarta Timur Kabulkan Gugatan PT Mas Lestari Perkasa terhadap PT Astra Agro Lestari

Sementara itu, Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Edi Wibowo, menambahkan bahwa CPO yang selama ini diekspor ke Eropa, yang diperkirakan sekitar 3-5 juta ton, dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan domestik, termasuk untuk mendukung program B50. Selain itu, opsi ekspor ke negara-negara lain juga sedang dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya diversifikasi pasar. (T2)


Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com