InfoSAWIT, JAKARTA – Managing Director Glenauk Economics, Julian McGill, mengungkapkan tantangan struktural yang dihadapi minyak sawit di pasar minyak nabati. Minyak sawit memiliki kelemahan dalam penyimpanan berbentuk cair dan pola musim yang mempengaruhi pasokan.
Dibandingkan dengan minyak bunga matahari, yang juga mengalami musim sangat ketat dan terganggu akibat konflik, minyak sawit justru dianggap lebih ekonomis meski bukan “minyak premium.”
Kelebihan atau kekurangan minyak nabati sering kali terkait dengan ketersediaan dan bukan kualitas minyak itu sendiri. McGill mencatat, stagnasi pertumbuhan lahan sawit membuat pasokan minyak sawit tidak mengalami peningkatan signifikan sejak 2019, ketika ekspor minyak sawit mencapai puncaknya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode I-November 2024 Naik Rp 87,99/kg Cek Harganya..
“Kenaikan permintaan domestik di Indonesia, terutama untuk biodiesel, semakin memperketat pasokan minyak sawit, sementara ekspor minyak inti sawit (PKO) juga menunjukkan penurunan signifikan. Investasi berlebihan di industri alkohol lemak di Indonesia memperketat pasokan lebih lanjut,” catat Julian McGill, dalam paparannya pada Konferensi minyak sawit, dikutip InfoSAWIT, Senin (11/11/2024).
Harga minyak nabati yang tinggi pada 2020/2021 tidak berhasil merangsang ekspansi area perkebunan sawit, berbeda dengan kondisi pada 2010/2011. Sementara harga minyak bunga matahari dan rapeseed memiliki keterbatasan dalam ekspansi, kedepannya, peningkatan pasokan diprediksi berasal dari kedelai.
Pasokan minyak sawit yang stagnan berarti pengaruh penurunan permintaan di beberapa pasar, seperti Uni Eropa, tidak akan mempengaruhi harga global secara drastis. Uni Eropa telah mengurangi impor minyak sawit secara signifikan, terutama akibat penghapusan penggunaan minyak sawit dalam biodiesel. Namun, minyak sawit tetap akan digunakan untuk produk yang sulit digantikan.
BACA JUGA: Impor Minyak Nabati India Diprediksi Turun pada 2024-2025, Menyusul Produksi Dalam Negeri Meningkat
Penundaan aturan EUDR (European Union Deforestation Regulation) juga tidak menyelesaikan masalah dalam regulasi tersebut, seperti tantangan segregasi minyak sawit. McGill memperkirakan premi minyak sawit mentah (CPO) akan tetap rendah, sedangkan harga palm stearin dan PKO akan lebih tinggi karena biaya bea masuk.
