Indonesia menargetkan bauran energi bersih 23% pada 2025 dan 40% pada 2030, sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk swasembada energi. PT PLN (Persero) juga menargetkan keterlibatan swasta dalam pembangunan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 60%.
Namun, menurut Fabby, investor perlu mempertimbangkan beberapa faktor sebelum berinvestasi dalam IPO perusahaan energi terbarukan. “Lingkungan pendukung seperti kebijakan, regulasi, stabilitas ekonomi, serta prospek pengembangan bisnis perusahaan itu sendiri sangat penting,” katanya. Potensi energi terbarukan Indonesia sendiri mencapai 3.686 gigawatt (GW), dengan pemanfaatan energi bersih baru sekitar 12,54 GW pada 2023.
Fabby menambahkan, sebagai investor, ia lebih memilih saham energi terbarukan dibandingkan saham batu bara karena prospek keberlanjutannya. “Namun, perusahaan yang ingin IPO harus memiliki strategi bisnis yang matang, prospek pengembangan, dan kredibilitas yang kuat,” tutupnya. (T2)
