Kenanga Research juga mencatat bahwa ekspansi perkebunan kelapa sawit yang stagnan sejak 2018/2019 telah memperlambat pertumbuhan pasokan menjadi hanya 2,0 persen hingga 3,0 persen per tahun. Dengan mayoritas konsumsi minyak nabati digunakan dalam industri makanan (70 persen), biodiesel (22-25 persen), serta oleokimia dan sektor lainnya, kebijakan biodiesel dapat menjadi faktor penentu dinamika harga di masa depan.
“Jika harga minyak nabati naik lebih tinggi, pemerintah kemungkinan akan mengurangi campuran biodiesel untuk mengendalikan inflasi pangan, yang lebih sensitif secara politik,” ungkap laporan tersebut.
Dari sisi biaya produksi, sektor hulu minyak sawit diperkirakan akan tetap kompetitif pada 2025. Meskipun upah minimum di Malaysia dan Indonesia telah naik 16 persen, serta kontribusi dana pensiun (EPF) sebesar 2,0 persen untuk pekerja migran mulai berlaku, kenaikan biaya tenaga kerja diprediksi hanya sebesar 6,0 persen hingga 8,0 persen secara tahunan.
BACA JUGA: Pemerintah Dorong Hilirisasi Sawit, Fokus pada Daya Saing dan Keberlanjutan
Dengan kombinasi harga CPO yang kuat dan biaya produksi yang relatif stabil, Kenanga Research tetap optimistis terhadap kinerja sektor perkebunan sepanjang tahun 2025. (T2)
