InfoSAWIT, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyoroti peran strategis kelapa sawit dalam mendukung ketahanan energi dan industri nasional. Menurutnya, komoditas sawit tidak hanya menghasilkan minyak nabati, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, termasuk bahan bakar.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun (1 Abad) Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, dipantau InfoSAWIT, Sabtu (19/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Prabowo mengatakan Indonesia patut bersyukur karena memiliki sumber daya alam yang memungkinkan pengembangan energi berbasis kelapa sawit. Ia menyinggung keberhasilan Indonesia memproduksi bahan bakar solar berbasis sawit sebagai salah satu perkembangan penting dalam pemanfaatan komoditas perkebunan tersebut.
BACA JUGA: Teraju Indonesia Soroti Perlindungan Pekerja Sawit dalam Pembahasan RUU Ketenagakerjaan
“Alhamdulillah kita sudah bisa produksi solar dari kelapa sawit,” ujar Prabowo dalam pidatonya.
Menurut Presiden, kelapa sawit merupakan tanaman yang memiliki manfaat luas. Ia bahkan menyebut sawit sebagai tanaman yang memiliki karakteristik seperti miracle crop atau tanaman ajaib karena bagian dan turunannya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Prabowo menyebut kelapa sawit dapat menghasilkan sekitar 57 turunan produk. Pemanfaatannya, kata dia, tidak terbatas pada bahan bakar, tetapi juga mencakup berbagai produk industri, termasuk sabun dan bahan untuk kebutuhan kesehatan.
BACA JUGA: IPS Planter Talks 2026 Soroti Krisis Pemanen Sawit dan Ancaman terhadap Produktivitas
“Kelapa sawit dapat 57 derivatif. Kita bisa dapat obat, kita bisa dapat sabun, kita bisa dapat macam-macam,” katanya.
Sawit dan Ketahanan Energi
Pernyataan Prabowo tersebut menempatkan hilirisasi kelapa sawit dalam konteks yang lebih luas, terutama terkait upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan memperkuat sumber energi domestik.
Pengembangan biodiesel berbasis minyak sawit selama ini menjadi salah satu kebijakan utama pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus menciptakan pasar domestik bagi minyak sawit.
BACA JUGA: Bukan Sekadar Target Produksi, Mandor dan Asisten Jadi Wajah Manajemen di Kebun Sawit
Selain biodiesel, pemerintah juga mendorong pengembangan teknologi untuk menghasilkan berbagai jenis bahan bakar dari sumber daya domestik. Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia telah mampu mengembangkan bahan bakar jenis solar dan bensin berbasis kelapa sawit.
“Kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pengembangan bahan bakar yang bersumber dari batu bara sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
BACA JUGA: Pekebun Sawit Malaysia Soroti Tantangan EUDR dan Ketertelusuran
Bagi industri sawit, pengembangan produk turunan tersebut membuka ruang hilirisasi yang lebih luas. Minyak sawit tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai bahan baku industri energi, pangan, oleokimia hingga berbagai produk konsumen.
Prabowo dalam kesempatan tersebut juga mengajak masyarakat untuk melihat potensi sumber daya alam Indonesia sebagai sesuatu yang patut disyukuri dan dikembangkan melalui kemampuan teknologi serta sumber daya manusia. “Patut kita bersyukur kepada Yang Maha Kuasa,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan arah pemerintah dalam menempatkan kelapa sawit sebagai salah satu komoditas strategis yang dapat menopang agenda hilirisasi dan ketahanan energi Indonesia. (T2)
