InfoSAWIT, JAKARTA — Kampanye cinta sawit dan upaya pemulihan kebun sawit bermasalah menjadi bahasan utama dalam pertemuan antara Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhanas, Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P., dengan Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Agus Sutomo, Senin (19/5) di Jakarta.
Dalam kunjungan itu, Prof. Reni menyerahkan buku karyanya berjudul “Sawit Indonesia dalam Konstruksi Peradaban Dunia”. Ia menekankan pentingnya membangun kebanggaan terhadap sawit sebagai komoditas unggulan Indonesia yang mendominasi pasar global.
“Kita produsen sawit terbesar dunia. Kenapa tidak bangga? Kampanye sawit seharusnya menjadi gerakan nasional,” ujar Prof. Reni, dilansir InfoSAWIT dari Agrinas, Kamis (22/5/2025).
BACA JUGA: Ketimpangan Perdagangan Komoditas Pertanian, Dorong Indonesia Manfaatkan Keunggulan Komparatif
Prof. Reni juga mendorong agar para diplomat Indonesia dibekali pemahaman menyeluruh tentang sawit sebagai bagian dari strategi diplomasi ekonomi. Ia menyayangkan maraknya kampanye negatif di kalangan generasi muda, termasuk mahasiswa, yang menganggap sawit sebagai penyebab kerusakan lingkungan.
Padahal, menurut kajian Lemhanas yang melibatkan 17 pakar, sawit memiliki potensi tinggi dalam penyerapan karbon dan bisa menjadi solusi pengurangan emisi, jika dikelola dengan benar. Namun, hasil penelitian tersebut sulit menembus jurnal ilmiah internasional karena dinilai bertentangan dengan kepentingan negara-negara pengimpor sawit.
Tak hanya itu, Prof. Reni juga mengusulkan agar istilah “perkebunan sawit” diganti menjadi “hutan sawit” untuk mengubah persepsi publik. “Kalau karet bisa disebut hutan rakyat, kenapa sawit tidak?” tegasnya.
BACA JUGA: Perpres Penertiban Kawasan Hutan, Niat Baik yang Bisa Tergelincir
Dalam kesempatan yang sama, ia mengusulkan kampanye publik bertajuk “Saya Cinta Sawit” untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat sawit yang hadir dalam hampir semua produk keseharian.
Menanggapi hal itu, Dirut PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Agus Sutomo, menjelaskan bahwa perusahaannya tengah menjalankan mandat besar dari Presiden Prabowo Subianto untuk membenahi kebun-kebun sawit bermasalah yang kini berada di bawah pengelolaan Agrinas.
