InfoSAWIT, SUBULUSSALAM — Pemerintah Kota Subulussalam terus mendorong praktik perkebunan kelapa sawit yang bertanggung jawab dengan fokus pada perbaikan sistem ketenagakerjaan. Melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) dan dukungan Earthworm Foundation, digelar workshop bertajuk Mitigasi Risiko Pekerja Anak dan Pekerja Harian selama dua hari pada 21–22 Mei 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan Kelompok Kerja (Pokja) Ketenagakerjaan Kota Subulussalam, wadah kolaborasi yang menghimpun berbagai pemangku kepentingan—dari instansi pemerintah, pelaku usaha perkebunan, serikat pekerja, hingga organisasi masyarakat sipil.
Kepala Disnakertrans Subulussalam, Adita Karya, dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk menghasilkan perubahan nyata di lapangan.
BACA JUGA: Pemerintah Dorong Sistem Tracing Sawit Nasional, Airlangga: Harus Sederhana dan Tangguh
“Pokja ketenagakerjaan ini kita harapkan mampu mendorong tindak lanjut konkret yang berdampak langsung terhadap praktik ketenagakerjaan di perusahaan-perusahaan sawit,” ujar Adita ditulis InfoSAWIT, Jumat (23/5/2025).
Workshop tersebut menyoroti dua isu utama: perlindungan anak dari praktik eksploitasi dan pengelolaan pekerja harian lepas (PHL) yang sesuai dengan ketentuan hukum dan standar internasional.
Salah satu narasumber, Halimah, menjelaskan pentingnya memahami perbedaan antara “pekerja anak” dan “anak yang bekerja”. Ia menekankan bahwa keterlibatan anak dalam pekerjaan tidak selalu melanggar hukum, selama tidak membahayakan keselamatan dan tidak mengganggu pendidikan mereka.
BACA JUGA: Desa Jadi Garda Depan Sawit Berkelanjutan, FORTASBI Dorong Perdes dan Konservasi Sungai
“Anak masih bisa dilibatkan dalam pekerjaan ringan, asalkan aman dan tidak mengganggu waktu belajar,” jelas Halimah.
Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis awal dalam menciptakan sistem kerja yang adil, aman, dan inklusif di sektor sawit Subulussalam. Selain memperkuat perlindungan sosial, inisiatif ini juga mendukung arah industri sawit yang lebih berkelanjutan.
